SADERMO (SEKEDAR) MENYAMPAIKAN

Posted By on November 20, 2017

Sadermo itu tidak butuh dihargai, tidak butuh didengar, tidak butuh diapresiasi atas ide tutur kata nasehat fatwa apapun yg telah disampaikan.
Tidak butuh dihormati dipuji disanjung-sanjung apalagi dikeramatkan. Tidak butuh ganjaran, baik yang bersifat materi ataupun surgawi.

Sadermo itu tidak kaget tidak kecewa tidak patah semangat ketika ide nasehat tutur kata fatwanya ditolak, diacuhkan, atau bahkan dicibir.

Sadermo itu bukan urusan otak akal logika. Bukan urusan kecerdasan otak, kecerdasan tutur kata, atau pinter ngomongnya. Tapi ia urusan hati.
Baca Selengkapnya »

SAUDARA (SEDULUR) SEPEMAHAMAN

Posted By on November 20, 2017

Kadang saya merasa miris, memahami pemahaman mereka bahwa yg disebut saudara (dulur) adalah mereka yang sekandung saja. Diluar saudara sekandungnya adalah benar-benar orang lain. Akibatnya kemudian saling cuek, acuh, bahkan tutup mata tutup rasa pada mereka yang bukan tunggal kandungnya.

Kadang saya geli sendiri, mengikuti pemahaman mereka bahwa yang dikatakan saudara adalah mereka yang semahdzab atau sealiran atau sepadepokan saja. Kemudian dengan gampangnya mencibir, mencemooh, dan menyalahkan orang lain diluar mahdzab-alirannya.

Kadang saya merasa prihatin dan ngelus dada sendiri, menyelami pemahaman mereka bahwa yang dikatakan saudara adalah mereka yang seagama saja. Diluar penganut agamanya adalah orang lain yang salah besar bin sesat yang jauh. Sehingga dengan mudahnya memvonis manusia lain diluar agamanya adalah tersesat, dosa besar, bahkan kafir.
Baca Selengkapnya »

PERSAINGAN LUAR BIASA

Posted By on October 24, 2017

Dari 400 juta kontestan yang memperebutkan 1 bidadari, ternyata hanya 1 yg selamat bisa menyuntingnya. Dia itu adalah “kita” sekarang ini. Yaa…kita, yang dulunya sangat hebat luar biasa. Mampu menyisihkan rival sejumlah 399.999.999 saudara seperjuangan, yang akhirnya mereka tewas sia-sia. Persaingan yang sangat luar biasa dalam sebuah perjalanan menuju alam kandungan.

Adakah mungkin ini gambaran kita-kita yang nantinya bisa pulang dengan selamat “abadan abada” kembali di sisi-NYA ??

Kadang terbersit penyesalan, mengapa dulu–ketika di alam arwah–saya begitu kemlinti bin kemleletnya hingga berani-beraninya sanggup menerima amanah-Nya. Padahal amanah tersebut awalnya tidak ditawarkan kepada manusia, tapi ditawarkan langit bumi gunung (makhluk-Nya yang besar perkasa). Dan nyatanya mereka semua menolak mboten sanggup (tidak kuwagang) menerima.

Sementara kita manusia yang cilik methakil kemlelet kemlinthi ini ujug-ujug menyatakan diri di hadapan Tuhan : kulo sanggup Gusti menerima amanah Panjenengan.

Baca Selengkapnya »