Membumikan Makna Haji

Posted By on March 5, 2010

SIAPA pun orangnya, tentu bangga (bahagia) bila dapat memenuhi panggilan Tuhan menjalani rukun Islam kelima, haji. Betapa tidak, selain ibadah ini merupakan “warisan” Nabi Ibrahim dan idaman setiap umat Islam, ia juga bisa meningkatkan status sosial. Biaya yang diperlukan jelas cukup besar, hingga tidak semua orang sanggup menjalaninya. Belum lagi syarat lain yang tidak mudah untuk dipenuhi. Singkatnya, hanya orang-orang terpilih lah yang dapat melaksanakan ibadah ini.

Sebaliknya, di balik “kebanggaan” mereka yang berhaji, ada semacam “penyesalan” pada mereka yang tak dapat menunaikannya. Susah berbaur prihatin karena merasa belum “sempurna” Islamnya. Kemudian timbul rasa iri pada mereka yang diberi rezeki berlimpah. Bahkan ada yang sampai “menyalahkan” pada pembuat nasib walaupun ada pula yang lapang dada menerimanya.

Kedua keadaan/peristiwa tersebut, secara sufism-experience, sama-sama “tidak benar”. Keduanya sama-sama mengandung butiran “tidak ikhlas”. Tercemar oleh virus bangga susah kecewa nelangsa. Akibatnya menjadi tidak diterima semua amal baik di sisi-Nya.

Yang benar adalah, tidak bangga ketika mampu menunaikannya dan tidak susah, kecewa, nelangsa ketika tidak sanggup menjalankannya. Sama-sama ikhlasnya. Bersih, kosong. Hati nurani bebas dari kabut debu yang mencemari tugas utamanya, yakni dzikrullah. Menjalani kehidupan dengan ikhlas menerima pemberian-Nya.

Lebih dari itu, kedua masalah tersebut menjadi sirna/nafi dengan sendirinya bila dapat menangkap dan memahami “roh”-nya haji. Tentu saja harus dibarengi dengan usaha keras membumikannya dalam keseharian.

Membumikan rohnya haji

Rohnya haji adalah al-hajju ‘arofatu. Berhentinya segala aktivitas di Padang Arafah. Secara syariat, ibadah ini dilakukan di Padang Arafah (Kabah dan sekitarnya). Dilengkapi dengan syarat rukunnya, larangannya, maupun ibadah “plus” lainnya.

Secara hakikat, makna wukuf adalah berhenti di Padang Arafah. Adalah berhentinya semua aktivitas “berdunia” (termasuk berhentinya napasnya sendiri), menyatakan Arafah-Nya Yang Mahaluas. Membuktikan ma’rifat (bertemu) Dzat Yang Mahaluas.

Adalah sebuah usaha (ibadah) untuk menghentikan berbagai pengakuan keduniawian dan geloranya hawa nafsu. Menghentikan segala macam pengakuan: status sosial, golongan, pangkat, jabatan, pekerjaan, gengsi, harga diri, anak-istri, dan sejenisnya. Tenggelam dalam menikmati indahnya wujud (Dzat) Tuhan Yang Mahaluas. Istilah tasawufnya, ma’rifat. Bertemu Tuhan.

Oleh karena sangat-sangat lembut serta melangit target yang hendak diraih, maka harus dibarengi dengan menjalankan ketentuan lainnya. Di antaranya: pertama, Ihram. Yaitu berniat melaksanakan haji dengan memakai pakaian yang suci tanpa jahitan (polos, utuh).

Tanpa jahitan merupakan simbol sama rasa. Sebuah usaha untuk mengakui tiada perbedaan antarsesama hamba. Apakah pangkat, derajat, harta, warna darah, trah (keturunan) dan sebagainya. Adalah hakikat rasa jiwa yang merdeka sejati. Bebas dari berbagai macam “jahitan/kekangan”. Baik yang datang dari luar diri (segala sistem buatan manusia dan setan) maupun yang dari dalam diri (hawa nafsu).

Kedua, wukuf di Arafah, berhenti di Padang Arafah yang sangat luas, yaitu berhentinya nafsu pengakuan dan berbagai aktivitas berdunia, di sisi Dzat Yang Mahaluas. Sebab, yang namanya nafsu itu kalaulah tidak dihentikan, pasti akan merajai, memperbudak, menjajah, memerkosa, atau menguasai jati diri manusianya (rasa). Oleh karenanya, nafsu ini harus diupayakan untuk dihentikan. Dalam rangka menyatakan ma’rifat kepada-Nya.

Ketiga, thawaf, mengelilingi Kabah (Baitullah, rumah Tuhan). Kabah ini terdiri dari empat pojok (sudut). Merupakan lambang alam-alam yang harus dilalui manusia, yaitu alam arwah, alam kandungan, alam dunia, dan alam kubur.

Pojok pertama, merupakan simbol alam arwah. Di pojok ini terdapat Hajar Aswad, yaitu simbol asal mula fitrah jati diri manusia yang warnanya hitam (asli). Fitrah manusia ini asalnya dari Fitrah Allah. Ketika masih di alam arwah ini, fitrah manusia gandeng dengan Fitrah-Nya. Haqqul-yakin melihat/menyaksikan Wujud (Dzat) Tuhan. Oleh karenanya berani berkata, qaalu balaa syahidna (benar wahai Tuhan, bahwa Engkau adalah Tuhanku), ketika dimintai persaksian oleh-Nya.

Pojok kedua adalah simbol alam kandungan. Pada pojok ini mengingatkan kita ketika masih berada di alam kandungan. Pada saat itu, ketika jasad masih berumur 120 hari ditiupkan roh (daya dan kekuatan) Tuhan. Bersamaan itu ditetapkan pula rezeki, umur, pati, amal, serta nasib baik dan nasib buruk. Pojok ini mengingatkan betapa sebenarnya manusia waktu itu yang apes, hina, tidak tahu apa-apa, tidak punya apa-apa. Adanya hanya pasrah, bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Kemudian setelah diberi daya dan kekuatan Tuhan (ditiupkan roh-Nya), barulah kemudian bisa tumbuh berpikir, bernapas, bekerja, dan seterusnya. Begitu pula ketika diberadakan pada alam dunia sekarang ini diharapkan bangkit kesadarannya untuk mengenal dan mengetahui dengan haqqul yakin keberadaan Dzat Sang Pencipta yang dulunya (maupun sekarang) merupakan tempat bergantung-berlindung-pasrah bongkokan. Kemudian dijadikan satu-satunya wujud yang dicintai, dijadikan tujuan hidup, diingat-ingat serta didekati hingga bertemu kembali (ma’rifat).

Pojok ketiga adalah alam dunia. Alam yang sekarang dilalui (berada) adalah materi (bahan) ujian yang harus diselesaikan agar bisa kembali pada Sang Pencipta. Cara menyelesaikan ujiannya yaitu dengan mengikuti jejak para Malaikatul-muqorrobin, yaitu rela patuh dan tunduk kepada wakil Tuhan (rasul) yang ada di bumi. Patuh dan tunduknya bagai mayit yang pasrah bongkokan di hadapan yang memandikan (menyucikan). Tidak memprotes sama sekali. Yang ada hanya sami’na wa atho’na.

Pojok keempat adalah alam kubur. Adalah tempat menuai hasil setelah selesai menjalani ujian dunia. Bila menjalani dunianya dengan sungguh-sungguh, mengikuti petunjuk rasul-Nya, jihadunnafsi-nya dengan keras, serta mendapat rahmat dan fadhal Tuhan, matinya bisa selamat. Wajahnya berseri-seri karena kepada Tuhan-Nya melihat (bertemu). Bangkit suka citanya merasakan betapa indah dan bahagianya kembali pada-Nya.

Tetapi sebaliknya, bila ketika menjalani ujian (dunia) itu dengan sembrono, menuruti hawa nafsu, tidak patuh kepada rasul-Nya, kemungkinan besar ketika mati nanti tidak mendapat rahmat dan fadhal Tuhan sehingga tidak bisa bertemu lagi dengan-Nya (tersesat). Masuk ke alam penasaran, yaitu alam jin, setan, dan sebangsanya yang tidak bisa mati sampai kiamat. Menjadi wadyabalanya di neraka kelak.

Keempat, sa’i. Yaitu berlari kecil dari Shofa dan Marwah. Lari kecil merupakan simbol bersegeralah, bergegaslah mumpung masih ada kesempatan (bukannya jalan santai ataupun berlari kencang). Bersegeralah memproses diri mendekat sampai bertemu dengan-Nya. Dunia (kehidupan) ini hanyalah sebagai ujian, bukanlah tujuan.

Hanya mampir sebentar mengisi perbekalan menuju kehidupan abadi. Cita-cita luhur dan mulia yang hendak dituju masih sangat jauh. Oleh karena itu, bersegeralah! Jangan santai, apalagi sembrono meremehkan. Sebab, besok pagi atau satu jam lagi mati tidak bisa diketahui. Karena tidak tahu kapan harus mati, maka senantiasa menjaga ajeg zikirnya, hati-hati dan waspada, serta selalu mohon belas kasih dan ampunan-Nya.

Menyatunya hidup dan mati

Di sisi lain, Shofa dan Marwah merupakan simbol dua kampung, yaitu kampung dunia dan kampung akhirat. Memahami bahwa dunia itu gandeng dengan akhirat. Senyatanya, ketika ibadah berusaha meyakini seolah-olah sebentar lagi akan mati. Tetapi ketika berdunia berusaha meyakini seolah-olah akan hidup selamanya. Sehingga, keyakinan antara besok mati maupun hidup selamanya bisa menyatu di dada, dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kelima, memotong rambut. Adalah simbol memotong mahkota kehidupan. Mahkota adalah sesuatu yang disayang dan dijaga kelestariannya. Wujudnya adalah watak aku (pengakuan). Mengaku (merasa) lebih hebat, lebih baik, lebih pintar, maupun mengaku hak milik atas segala yang dimiliki (padahal semuanya milik-Nya). Sehingga tidak butuh pitutur(sunah) rasul-Nya.

Mahkota ini harus “dipotong”. Jangan sampai ia mengganggu, apalagi menguasai jati diri manusianya. Dipotong dalam arti diperangi, dijihadkan dengan sebenar-benar jihad.

Di samping kelima lakon di atas, ada lakon lain yang dianjurkan untuk dikerjakan. Di antaranya adalah menyembelih binatang kurban (simbol membunuh nafsu bangsa hewan). Melempar jumrah, yang bentuknya berupa kerikil-kerikil kecil. Adalah melempar perkara kecil/remeh yang biasanya disepelekan manusia (suka dipuji, ingin dilihat orang lain, ingin diakui/dihargai kerja kerasnya, berbagai macam pamrih dunia).

Namun demikian, yang paling penting dari itu semua, untuk bisa membuktikan ma’rifat kepada-Nya, harus punya ilmu ma’rifat lebih dahulu. Hebatnya lagi, ia dapat dibumikan dalam keseharian. Sama halnya untuk menjadi dokter, maka berguru ilmu-ilmu kedokteran adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi.

Terlebih di bulan haji saat ini, tiada perkara yang lebih mulia selain belajar membuktikan ‘Arofah-Nya. Walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana, sesuai tingkat mampu masing-masing. Misalnya dengan berkorban (menyerahkan) sedikit harta pada Yang Punya. Syukur-syukur sesuai syarat rukun yang telah ditentukan sambil berusaha memenuhi perintah-Nya: “..dan bunuhlah dirimu !! Hal itu lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu.. (QS.2:54). Yang harus “dibunuh” adalah wataknya nafsu serta berbagai macam pengakuan (bukan wujudnya jiwa raga).***

Dimuat Di Pikiran Rakyat edisi cetak: Selasa, 09 Januari 2007

pencarian:

,hakikat wukuf di arafah

About the author

Seorang Dosen Di STT POMOSDA, Guru Matematika SMA POMOSDA (1995 – sekarang), dan Guru "Thinking Skill" SMP POMOSDA yang mempunyai hobi Belajar-Mengajar Berpikir, Mencerahkan Pemikiran

Comments

One Response to “Membumikan Makna Haji”

  1. Deanne says:

    I’m not that much of a internet reader to be honest but
    your sites really nice, keep it up! I’ll go ahead and bookmark your site to come
    back later. Many thanks

    [Reply]

Leave a Reply

Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.