Telaah Lanjutan dari Presentasi Harun Yahya

Posted By on April 18, 2010

MENYELAMI  MAKNA  KEABADIAN

KEABADIAN, menurut Harun Yahya –seorang penulis terkemuka di Turki– diasosiasikan oleh manusia umumnya seperti gambaran ribuan tahun, jutaan atau miliaran tahun.

Sebuah konsep waktu yang seakan-akan mengarah kepada jangka waktu selama-lamanya. Sebuah konsep yang tidak berawal dan tidak berujung. Relevan dengan makna abadi itu sendiri, yang dalam kamus bahasa Indonesia artinya kekal, tetap selama-lamanya.

Akan tetapi, dalam pandangan Tuhan Yang Mahakuasa, konsep “selama-lamanya” dan mutlak tak dapat terhitung ini telah berakhir. Keabadian, yang tampak sebagai sebuah konsep yang tak dapat dicapai oleh kita, hanyalah sebuah waktu yang sangat singkat dalam pandangan Allah. “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung”. (Q.S. Al-Hajj [22]: 47).
Baca Selengkapnya »

SUKSES SEJATI

Posted By on April 11, 2010

Sukses, memang hak—bahkan impian—setiap orang. Ia “hanya” dapat dijangkau oleh mereka yang sehat pikirannya. Sehat dalam arti sanggup memimpikan, merencanakan matang-matang aksinya, dan merealisasikannya dalam tindakan nyata. Di lain itu, yang tidak sehat pikirannya atau yang terkungkung oleh angan kosong tanpa upaya nyata, tak layak mendapatkannya.

Pencapaiannya pun tak semudah memimpikannya. Sebab, untuk mencapainya perlu perjuangan dan pengorbanan yang teramat berat. Energi yang diperlukan pun juga cukup besar. Apalagi niat dan tekad sebagai fondamennya, harus benar-benar membaja. Karena tanpa ada harmoni keduanya (niat dan tekad), segala pendukungnya menjadi sia-sia.
Baca Selengkapnya »

MEMBUMIKAN BELAJAR

Posted By on April 9, 2010

Belajar, umumnya diasumsikan menjadi garapan para pelajar. Selain pelajar, seolah “tidak wajib” lagi untuk menggarapnya. Karenanya, komunitas non pelajar ini, kecil pedulinya terhadap belajar. Termasuk sebagian guru yang hanya mau belajar bila berhubungan dengan tugas di sekolah.

Implikasi logisnya, ketika tidak berada di bangku sekolah lagi, hampir pasti belajar tidak lagi dilakukan. Lebih memprihatinkan lagi, akhir-akhir ini belajar disamakan dengan serangkaian pelajaran di sekolah. Belajar identik dengan buku atau media pengajaran. Di luar media tersebut, tidak ada materi penting untuk dipelajari. Sehingga, kelulusan seolah identik dengan “tamat belajar”.

Belajar dalam pengertian luas (sejati), tidak ada lagi sekat-sekat yang membatasi. Tidak ada batasan ruang, waktu, substansi, apalagi media.

Baca Selengkapnya »