MENYESAL DILAHIRKAN ??

Posted By on December 28, 2019

Kalau dirasa-rasakan, memang ada unsur menyesalnya, kenapa aku dilahirkan ke dunia. Menyesalnya, kenapa saya dulu berani-beraninya (sanggup) menerima
amanah. Padahal amanah tersebut awalnya tidak ditawarkan kepada manusia, melainkan ditawarkan kepada langit, bumi, gunung.

Yang raksasa saja tidak sanggup menerima amanah. Lha kok saya yg bagaikan sebutir debu dibanding si raksasa, begitu gemendul menerimanya. Sungguh kebangeten saya ini. Sungguh sangat7x terlalu buuoodoh.

Faktanya, setelah menyatakan sanggup menerima amanah, lalu divonis oleh Tuhan : innahu kaana zaluman jahula.
Sesungguhnya manusia itu dzolim (kejam, aniaya) lagi bodoh.

Baca Selengkapnya »

MENGETAHUI JATI DIRI

Posted By on December 27, 2019

Mohon pencerahannya guru
Saya ingin bertanya bagaimana cara mengetahui jati diri kita sendiri… Mohon jangan d buli….

=====================================

Man ‘arofa nafsahu faqof ‘arofa Robbahu.
Waman arofa Robbahu faqod jahula nafsahu.
Barang siapa mengetahui jati dirinya sendiri, tentu akan mengetahui jati diri Tuhannya.
Dan barang siapa mengetahui jati diri Tuhannya, tentu akan mengetahui bodohnya diri.

Dua premis tersebut bila ditarik silogismanya, maka didapat kesimpulan :
Barang siapa mengetahui jati dirinya sendiri, tentu akan mengetahui bodohnya diri.

Nah…untuk mengetahui jati dirinya sendiri, secara empiris (fakta pengalaman), satu-satunya cara adalah bertanya pada ahlinya.

Selanjutnya…

SEMAKIN TINGGI ILMU

Posted By on December 23, 2019

Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin enggan untuk berdebat.

=============================

Benar sekali.
Pas cocok bila dianalogikan dengan pepatah padi : semakin merunduk semakin berisi.

Rasionalnya :

1. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin luas wawasannya, akan semakin kecil semakin tiada arti dirinya. Karena semakin sadar bahwa ilmu-ilmu di luar sana, yang belum tersentuh sungguh tak hingga banyaknya.

Baca Selengkapnya »