Mengajar Bisa Mengajar

Posted By on March 21, 2010

Mengajar, yang biasa dilakukan para guru adalah agar siswa yang diajar “bisa” atas materi yang diajar. Syukur mampu menguasai.

Lebih dari itu, idealnya, target mengajar tidak hanya sekedar bisa dan menguasai. Tetapi trampil mengerjakan soal-soal variannya.Trampil pula menyelesaikan masalah-masalah kehidupan terkait materi ajar tertentu.

Sayangnya, rumusan target mengajar yang ideal tersebut belum sepenuhnya dapat terpahami. Masih jauh di angan, apalagi terealisasikan. Terkontaminasi “virus mengajar”. Seperti misalnya, adanya persepsi yang penting mengajar. Bisa atau tidak, menguasai atau malah tidak nyambung itu urusan siswa. Mereka kan anak orang lain, mengapa diambil pusing (atas bisa tidaknya)? Ada pula yang sering memberi tugas disambi ngobyek lain. Dan masih banyak lagi virus mengajar yang lain.

Baca Selengkapnya »

Meruncingkan Ide ”Deep Thinking”-nya Harun Yahya

Posted By on March 18, 2010

Berpikir Radikal Tentang Islam

BERPIKIR secara mendalam, menurut Harun Yahya, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai sesuatu yang memberatkan. Karena beratnya, maka pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan filosof.

Sedangkan orang-orang yang tidak mau berpikir secara mendalam, hidupnya dalam kelalaian yang sangat. Tidak menghiraukan tujuan penciptaan dirinya maupun tidak menghiraukan kebenaran ajaran agama.

Penyebabnya, di antaranya karena kelumpuhan mental akibat mengikuti kebanyakan orang, kemalasan mental, adanya anggapan bahwa berpikir secara mendalam tidaklah baik, terlena oleh kehidupan sehari-hari dan melihat segala sesuatu dengan penglihatan biasa (sekadar melihat tanpa perenungan). Oleh karenanya Yahya lalu berkesimpulan, “Wajib atas manusia untuk menghilangkan segala penyebab yang menghalangi mereka dari berpikir”.
Baca Selengkapnya »

Memilih Pemikir Dan Pemimpin

Posted By on March 12, 2010

Ada pengalaman menarik pada pemilu legislatif 9 April lalu. Ketika antri menunggu panggilan, seorang teman yang selesai mencontreng menghampiri. Kemudian bertanya, “kamu mau pilih partai mana, atau caleg siapa?”

Setelah diskusi yang cukup, singkatnya, banyak persamaan dengan pilihan masing-masing. Tetapi tentang pilihan caleg DPD, ada perbedaan. Si teman menyarankan memilih X saja. Alasannya, beliaunya pernah silaturahmi di “kampus”. Juga tidak berseberangan dengan agama keyakinan, walau kurang mendukung.

Sejenak saya pikir, benar juga alasannya. Namun setelah saya amati nama-nama daftar calon legislatif kelompok tersebut (DPD Jawa Timur) yang terpampang di papan informasi, saran pilihan tersebut saya anggap kurang sreg.

Alasannya, bolehlah beliaunya silaturahim atau ”sowan” di kampus–memang ini tradisi politikus memohon restu. Boleh juga bila tidak berseberangan maupun tidak mendukung dengan aliran keyakinan–karena paham pluralisnya yang cukup mapan. Namun dua alasan tersebut saya anggap tidak cukup kuat untuk mewakili daerah (provinsi).
Baca Selengkapnya »