TUHAN BERGANTUNG PADA RASUL?

Posted By on May 24, 2011

Tuhan bergantung pada Rasul? Nampaknya sangat ironis. Ironisnya, Dia Yang Maha Segalanya, ternyata perlu Rasul (Khalifah, Utusan) hanya untuk “mulang wuruk” (membelajari) manusia–agar bisa pulang kembali pada asal-Nya. Padahal, ketika menciptakan jagad raya seisinya (termasuk menciptakan semua manusia), mengatur jutaan planet lengkap dengan peredarannya, sama sekali tidak memerlukan bantuan makhluk-Nya.

Tetapi, begitulah kenyataannya. Dibalik ke-Mahakuasa-Nya, ternyata memang “perlu” makhluk-Nya (semisal para Malaikat) mengerjakan tugas-tugas tertentu. Jibril, menyampaikan wahyu kepada manusia. Mikail, bertugas membagi rezki, dan seterusnya dan sebagainya. Padahal kalau Dia berkehendak, tanpa harus melibatkan makhluk-Nya, dapat mencukupi sendiri apa yang Dia kehendaki.

Baca Selengkapnya »

IMAN RETORIKA, IMAN REALITA

Posted By on April 22, 2011

Iman, secara bahasa maknanya percaya. Yaitu percaya atas mengadanya suatu benda/zat, peristiwa, maupun adanya kekuatan tertentu di luar diri. Tumbuhnya rasa percaya ini disebabkan oleh 3 (tiga) hal. Karena berita (baik tulis maupun lisan), teori keilmuan, maupun pengalaman yang dialami/disaksikan secara langsung. Implikasi logis adanya iman ini, berpengaruh kuat terhadap sistem keyakinan (spiritual) seseorang.

Sayangnya, istilah iman (percaya) ini umumnya hanya dikaitkan dengan keberadaan Tuhan, malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan takdir—yang kemudian disebut rukun iman. Padahal mestinya (secara bahasa), ia dapat pula tertuju/mengarah kepada hal-hal lain. Misalnya iman pada isu, iman pada kekuatan japa mantra, percaya pada ramalan-ramalan, percaya pada suara/kekuatan gaib, percaya pada mimpi-mimpi dan lain sebagainya. Tapi nyatanya istilah (iman) ini terlanjur di-“booking” oleh Islam menjadi rukunnya (rukun iman).

Baca Selengkapnya »

MERAIH HIDUP BERMAKNA

Posted By on April 16, 2011

Hampir bisa dipastikan, cita-cita dan tujuan hidup seseorang dipengaruhi oleh orang tuanya. Orang-orang terdekat yang setiap hari berinteraksi, ikut pula memengaruhi. Sedang faktor lainnya: sekolah, tempat kerja, buku-buku bacaan, seruan ulama, berbagai macam media, lingkungan, maupun masyarakat luas.

Cita-cita dan tujuan hidup tersebut adalah hidup di dunia enak dan semua keinginan yang dibutuhkan tercukupi. Jauh dari masalah-masalah berat yang melilit kehidupan. Usaha sukses, kaya raya, rumah-mobil-perabotan mewah, harta melimpah yang cukup untuk 7 (tujuh) turunan. Hingga puncaknya, ketika mati nanti masuk surga.

Terlepas benar tidaknya fenomena yang sesungguhnya, yang jelas, sampai detik ini, ia diyakini kebenarannya. Secara alamiah ia telah diwariskan oleh para nenek moyang terdahulu. Seolah menjadi ”pakem” yang harus diwariskan secara turun tumurun.
Baca Selengkapnya »