SUKSES SEJATI

Posted By on April 11, 2010

Sukses, memang hak—bahkan impian—setiap orang. Ia “hanya” dapat dijangkau oleh mereka yang sehat pikirannya. Sehat dalam arti sanggup memimpikan, merencanakan matang-matang aksinya, dan merealisasikannya dalam tindakan nyata. Di lain itu, yang tidak sehat pikirannya atau yang terkungkung oleh angan kosong tanpa upaya nyata, tak layak mendapatkannya.

Pencapaiannya pun tak semudah memimpikannya. Sebab, untuk mencapainya perlu perjuangan dan pengorbanan yang teramat berat. Energi yang diperlukan pun juga cukup besar. Apalagi niat dan tekad sebagai fondamennya, harus benar-benar membaja. Karena tanpa ada harmoni keduanya (niat dan tekad), segala pendukungnya menjadi sia-sia.
Baca Selengkapnya »

MEMBUMIKAN BELAJAR

Posted By on April 9, 2010

Belajar, umumnya diasumsikan menjadi garapan para pelajar. Selain pelajar, seolah “tidak wajib” lagi untuk menggarapnya. Karenanya, komunitas non pelajar ini, kecil pedulinya terhadap belajar. Termasuk sebagian guru yang hanya mau belajar bila berhubungan dengan tugas di sekolah.

Implikasi logisnya, ketika tidak berada di bangku sekolah lagi, hampir pasti belajar tidak lagi dilakukan. Lebih memprihatinkan lagi, akhir-akhir ini belajar disamakan dengan serangkaian pelajaran di sekolah. Belajar identik dengan buku atau media pengajaran. Di luar media tersebut, tidak ada materi penting untuk dipelajari. Sehingga, kelulusan seolah identik dengan “tamat belajar”.

Belajar dalam pengertian luas (sejati), tidak ada lagi sekat-sekat yang membatasi. Tidak ada batasan ruang, waktu, substansi, apalagi media.

Baca Selengkapnya »

MEMBUMIKAN MUSYAWARAH

Posted By on April 7, 2010

Sungguh memprihatinkan. Musyawarah mufakat yang menjadi budaya luhur warisan nenek moyang terancam hilang. Konon saking luhurnya, ia dijadikan fondasi keempat dasar negara kita, Republik Indonesia.

Faktanya, tidak sedikit para pemikir bangsa ini (para wakil rakyat)–baik yang berkedudukan di pusat, wilayah, maupun daerah–mulai menafikan, bahkan sering. Tidak jarang memilih adu jotos dalam menyelesaikan tugas yang harus dibahasnya. Atau dengan gagah perkasanya keluar sidang tanpa menyadari tanggungjawabnya sebagai “pemikir rakyat”. Demikian pula generasi intelektualnya (mahasiswa) yang gemar perang batu, ketika beda pendapat dari luar kelompoknya.

Baca Selengkapnya »