MEMANTAPKAN BULAN SYA’BAN

Posted By on June 5, 2015

……………………………………………………………………….

Jamaah Jumah yang berbahagia.

Agenda ketiga di bulan Sya’ban ini adalah penyiapan bekal mental menghadapi globalisasi ketidakpastian. Ketidakpastian alam yang akhir-akhir ini makin mengglobal, makin mengkawatirkan, dan setiap saat siap melumat penghuninya. Ditandai dengan munculnya fenomena-fenomena alam luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Konon para ahli telah merumuskan bahwa peristiwa besar di alam ini memiliki siklus tersendiri. Semacam meletusnya gunung tertentu yg memiliki siklus 100 tahunan, 200 tahunan, dst. Ada pula peristiwa superdahsyat sekaliber meletusnya gunung Toba, yang siklusnya kisaran 1000 tahunan. Dari fenomena-fenomena luar biasa yang saat ini terjadi, kita dimungkinkan menghadapi siklus serupa atau bahkan mungkin lebih hebat lagi. Karena itu menuntut kesiapan-kesiapan yang sifatnya materi, pemikiran, pemahaman, maupun mental-spiritual. Kesiapan materi sebagaimana yang diterapkan dalam berbagai pelatihan darurat bencana, SAR, URC, dsb. Sedang kesiapan mental yang berhubungan dengan batin atau keimanan, kiranya perlu persiapan pemahaman khusus, diantaranya:

……………………………………………………………………….

Selengkapnya dapat didownload  Memantapkan Bulan Sya’ban

TIDUR YANG MULIA

Posted By on April 28, 2015

Tidur yg paling mulia adalah ketika mata tertidur, hati tidak tidur. Itbak Nabi/Rasul dalam mensupport diri : tidurlah mataku, tapi jangan tidur hatiku.
Tapi apa yaa mungkin? Bagaimana caranya? Dimana nilai logisnya? Serta puluhan pertanyaan lain bermunculan ketika merenungi sabda Nabi Saw di atas.

Hati yg tidak tidur adalah hati nurani (bukan hati sanubari) yg telah berfungsi sebagaimana tupoksinya. Berfungsi karena padanya telah diberi ilmu—disekolahkan/digurukan. Ilmu Dzikir namanya. Kemudian dilatih dibelajari dikonsentrasi sesuai “juklak juknis” ilmu tsb, sebagaimana petunjuk pemberi ilmu.
Analogi sederhananya adalah tentang otak. Otak ini jelas tidak akan mampu berpikir untuk membuat “bom atom”, bilamana kepadanya tidak belum atau diberi ilmu nuklir—disekolahkan/digurukan. Sekalipun setiap harinya telah trampil membuat/memproduksi “kacang atom”.
Baca Selengkapnya »

DIMANA POTENSI LOGISNYA ?

Posted By on April 14, 2015

Dua ayat yang menampakkan potensi berlawanan, adalah QS. Ali Imran : 19 dan QS. Al Baqarah : 62).
1. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS Ali Imran 19).
2. “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al Baqarah: 62).

Dua ayat tersebut sekilas menampakkan berlawanan. Itu karena memaknainya secara sempit. Semisal “ad-din”, yang kebanyakan tafsir memaknainya dengan agama. Dalam kamus bahasa Arab (yang pernah saya dengar), “ad-din” itu maknanya al-khudu’ al-mutlak. Pasrah bongkokan (tunduk) secara mutlak. Sehingga bila dimaknai dengan kalimat ini, makna lengkapnya menjadi: “barang siapa yang pasrah bongkokan (tunduk secara mutlak) disisi/dihadapan Tuhan, yaitulah yang akan diselamatkan–oleh Tuhan sendiri”. Diselamatkan dunianya, juga diselamatkan akheratnya. Sehingga ada keserasian bila dikaitkan dengan ayat kedua.

Baca Selengkapnya »