Meruncingkan Ide ”Deep Thinking”-nya Harun Yahya

Posted By on March 18, 2010

Berpikir Radikal Tentang Islam

BERPIKIR secara mendalam, menurut Harun Yahya, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai sesuatu yang memberatkan. Karena beratnya, maka pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan filosof.

Sedangkan orang-orang yang tidak mau berpikir secara mendalam, hidupnya dalam kelalaian yang sangat. Tidak menghiraukan tujuan penciptaan dirinya maupun tidak menghiraukan kebenaran ajaran agama.

Penyebabnya, di antaranya karena kelumpuhan mental akibat mengikuti kebanyakan orang, kemalasan mental, adanya anggapan bahwa berpikir secara mendalam tidaklah baik, terlena oleh kehidupan sehari-hari dan melihat segala sesuatu dengan penglihatan biasa (sekadar melihat tanpa perenungan). Oleh karenanya Yahya lalu berkesimpulan, “Wajib atas manusia untuk menghilangkan segala penyebab yang menghalangi mereka dari berpikir”.
Baca Selengkapnya »

Memilih Pemikir Dan Pemimpin

Posted By on March 12, 2010

Ada pengalaman menarik pada pemilu legislatif 9 April lalu. Ketika antri menunggu panggilan, seorang teman yang selesai mencontreng menghampiri. Kemudian bertanya, “kamu mau pilih partai mana, atau caleg siapa?”

Setelah diskusi yang cukup, singkatnya, banyak persamaan dengan pilihan masing-masing. Tetapi tentang pilihan caleg DPD, ada perbedaan. Si teman menyarankan memilih X saja. Alasannya, beliaunya pernah silaturahmi di “kampus”. Juga tidak berseberangan dengan agama keyakinan, walau kurang mendukung.

Sejenak saya pikir, benar juga alasannya. Namun setelah saya amati nama-nama daftar calon legislatif kelompok tersebut (DPD Jawa Timur) yang terpampang di papan informasi, saran pilihan tersebut saya anggap kurang sreg.

Alasannya, bolehlah beliaunya silaturahim atau ”sowan” di kampus–memang ini tradisi politikus memohon restu. Boleh juga bila tidak berseberangan maupun tidak mendukung dengan aliran keyakinan–karena paham pluralisnya yang cukup mapan. Namun dua alasan tersebut saya anggap tidak cukup kuat untuk mewakili daerah (provinsi).
Baca Selengkapnya »

Ndangak-Ndingkluk dalam Ilmu dan Harta

Posted By on March 8, 2010

Salah satu syukur yang biasanya luput dari panggraitan adalah syukur ilmu. Sebagaimana syukur-syukur yang lain, idealnya, syukur ilmu ini perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Alasannya, bila ditafakuri secara mendalam; tingkat keilmuan, tingkat pendidikan, maupun tingkat pemahaman-penguasaan yang kita rasakan detik ini, adalah murni karena hidayah-Nya. Bukan karena jerih payah, usaha keras, maupun ketlatenan kita dalam belajar. Walaupun pada mulanya memang karena usaha dan kesungguhan kita.

Sebagaimana diberitakan Al Quran, “..dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar..” (QS.8:17). Sehingga analoginya, bukan kita yang bisa atas berbagai ilmu yang telah kita pelajari dan kita tekuni. Bukan pula karena kerja keras kita sehingga bisa mendapat gelar seperti sekarang. Melainkan Tuhan-lah yang membisakan. Tuhan-lah Yang Maha Bisa.
Baca Selengkapnya »