TIDUR YANG MULIA

Posted By on April 28, 2015

Tidur yg paling mulia adalah ketika mata tertidur, hati tidak tidur. Itbak Nabi/Rasul dalam mensupport diri : tidurlah mataku, tapi jangan tidur hatiku.
Tapi apa yaa mungkin? Bagaimana caranya? Dimana nilai logisnya? Serta puluhan pertanyaan lain bermunculan ketika merenungi sabda Nabi Saw di atas.

Hati yg tidak tidur adalah hati nurani (bukan hati sanubari) yg telah berfungsi sebagaimana tupoksinya. Berfungsi karena padanya telah diberi ilmu—disekolahkan/digurukan. Ilmu Dzikir namanya. Kemudian dilatih dibelajari dikonsentrasi sesuai “juklak juknis” ilmu tsb, sebagaimana petunjuk pemberi ilmu.
Analogi sederhananya adalah tentang otak. Otak ini jelas tidak akan mampu berpikir untuk membuat “bom atom”, bilamana kepadanya tidak belum atau diberi ilmu nuklir—disekolahkan/digurukan. Sekalipun setiap harinya telah trampil membuat/memproduksi “kacang atom”.

Sudah punya ilmu dzikir pun, tidak otomatis langsung bisa memenuhi spirit Nabi di atas—yg terlebih dulu memang harus ber-“fas-alu ahladzdzikri inkuntum laa ta’lamuuna” (tanyakan olehmu kepada ahli dzikir bila kamu tidak tahu bagaimana caranya berdzikir [QS.21:7]). Perlu pelatihan pembelajaran pengajegkan pengistikomahan dalam berdzikir. Perkara jibeg, susah, bungah, ngenes golek/nagih utang, pekerjaan, aktifitas sehari-hari, dicacat dipaido dikritik, dan berjuta perkara lainnya tidak boleh masuk hati (dikeluarkan dari hati). Cukup masuk wilayah otak dan diselesaikan otak. Perkara dunia cukup wilayah otak. Hati nurani tugasnya ngambah dzikir. Mula-mula melatih ajegnya, istikomahnya, hingga bisa menikmati berdzikir (istilah tasawufnya : hati yang ngambah tarekat/thorikoh, ndalan nuju Pengeran).

Contoh riilnya adalah kehidupan para Nabi itu sendiri. Tidak ada istilah gundah takut was-was khawatir ketika dihina dilecehkan bahkan dibawah ancaman pedang. Hati tetap istikomah dalam dzikir. Sehingga sholat daimnya (dzikir yg ajeg dalam segala aktifitas) kemudian menjadi terjaga. Seolah otomatis sambil keluar masuknya nafas, terbarengi/terisi dzikir. Karena itu tidak aneh bila dalam tidurpun hati Beliau tidak tidur–alias ajeg dalam dzikir.

Bilamana hati nurani kita telah dicoba dibelajari dilatih yg demikian, tidak menutup kemungkinan bila pada saatnya dibisakan oleh-Nya. Menspirit diri : dzikir ajeglah hatiku sekalipun mata tertidur.

Ahli dzikir adalah hamba pilihan-Nya yang hati nurani (berikut roh dan rasanya) telah maqam di dzikir. Tidak pernah lepas dari dzikir walau hanya sedetik. Karena itu memang pilihan Tuhan sendiri. Bentukan Tuhan sendiri. Contoh sederhananya adalah ahli kubur, orang yg telah maqam di kubur, alias telah mati dan dikubur. Kalau ia sedetik saja keluar dari kubur, bukan ahli kubur lagi. Menjadi hantu namanya.

Ciri-ciri ahli dzikir ini, diantaranya :
1. Mengajarkan ilmu dzikir. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (ilmu Dzikir) dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS.15:9).
2. Ada rantai silsilah ke atas yang tidak pernah putus sampai Imam Ali, dari Nabi Saw.
3. Padanan katanya : imamu mubin, al-wasilata, an-nadzir, al-hadi, al-mundzir, al-muthohharun, dst.

Kemudian PR sepanjang hayatnya :
Kapan kita bisa mempraktekkan “tidurlah mataku, tetapi jangan tidur hatiku”?

pencarian:

,ciri seorang ahli dzikir

About the author

Seorang Dosen Di STT POMOSDA, Guru Matematika SMA POMOSDA (1995 – sekarang), dan Guru "Thinking Skill" SMP POMOSDA yang mempunyai hobi Belajar-Mengajar Berpikir, Mencerahkan Pemikiran

Comments

2 Responses to “TIDUR YANG MULIA”

  1. mohd andrayadi says:

    terimakasih atas ………karyanya…smg bermanpaat bagi pembacanya,,,,

    [Reply]

    Roni Djamaloeddin Reply:

    Sama2…terimakasih kembali.
    Sekolah mbarokahi kehidupan kita hingga akhir hayat.

    [Reply]

Leave a Reply

Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.