MENJADI WAYANG

Posted By on September 13, 2021

Sering kita mendengar kalimat manusia hanyalah wayang yang digerakkan sang dalang. Namun prakteknya, kadang sering jumbuh. Jumbuh perannya. Kadang seperti wayang, kadang menjadi dalang.

Kok bisa demikian?

Faktanya memang demikian. Wayang sesungguhnya yang dari kulit itu barang mati. Hanya satu dimensi : dimensi syareat (lahiriah). Sehingga dengan mudah digerakkan oleh dalang. Bahkan oleh siapapun, dengan mudah pula dimainkan.

Termasuk penggambaran sifat, watak, perilaku, kedudukan, jabatan, fungsi kemanusiaan, …dst-dsb. Tergantung sang dalang sepenuhnya.

Sementara pada manusia, ada dua dimensi sekaligus : dimensi syareat (lahiriah) dan dimensi hakekat (batiniah). Keduanya, hakekatnya digerakkan Sang Dalang (Tuhan).

Bedanya, kalau wayang digerakkan dari luar. Sedang manusia digerakkan dari dalam. Penggeraknya namanya roh : Daya Kuat Tuhan yang dipinjamkan pada manusia, saat masih berumur 120 hari dalam kandungan.

Sehingga dengan adanya pinjaman Daya Kuat itu, sel-sel mampu berkembang. Otak bisa berpikir. Jantung, paru², organ lain, sistem organ, maupun onderdil lain dapat bekerja sesuai fungsinya. Singkatnya, roh lah yang menggerakkan lahir batin manusia.

Terus, dimana letak jumbuh perannya?
Yaitu ketika semua gerak tubuh, kekuatan tubuh, kepunyaan jiwa raga, hingga yang ide gagasan pemikiran, semuanya diaku miliknya. Diaku kekuatannya. Diaku jerih payahnya.

Pada titik kritis lembut itulah si wayang memerankan diri sebagai dalang. Hak Tuhan sebagai Maha Memiliki, dijarah paksa. Ini biasanya sama sekali tidak disadari. Tidak diupaya dan tidak disekolahi.
(https://ronijamal.com/martabat-roh/)

Penyebabnya, bisa karena belum punya Ilmu Tauhid (‘alimul Ghaibi wasysyahadati). Mungkin sudah punya ilmunya tapi masih dijajah dikuasai diperbudak nafsunya. Bisa mungkin pula karena tidak menyadari sama sekali akan dzaluman jahulanya.

Karena itu, wayang-wayang hidup ini diperintah : udhulu fissilmi kaaffatan. Upayakan jiwa raga masuk dalam Islam secara keseluruhan. Atau dalam kalimat lain, selamatkan semua unsur anasir jiwa raga secara keseluruhan.

Jasad/lahiriah diselamatkan (diislamkan). Hatinya diselamatkan (diislamkan). Rohnya diselamatkan (diislamkan). Hingga rasa, unsur dasar/utama manusia diislamkan.
(https://ronijamal.com/islam-kaaffah/)

Dengan demikian simpulnya, menjadi wayang itu bisa dilakukan ketika belajar tidak ngaku obah osiknya jiwa raga. Belajar tidak ngaku kekuatan akal nalarnya. Juga belajar tidak ngaku pada harta benda kedudukan jabatan hak milik kepunyaan yang diusahainya.

Namun bilamana sebaliknya, tidak belajar menyerahkan mengembalikan pada Yang Maha Bisa Yang Maha Punya, tidak ngulihke pinjaman roh Tuhan, maka tanpa disadari sama sekali telah mengaku sebagai dalang.

_____090921–belajar jadi wayang dalam nderek nyengkuyung bela dan nyandar Guru (Kyai Tanjung).

.

About the author

Seorang Dosen Di STT POMOSDA, Guru Matematika SMA POMOSDA (1995 – sekarang), dan Guru "Thinking Skill" SMP POMOSDA yang mempunyai hobi Belajar-Mengajar Berpikir, Mencerahkan Pemikiran

Comments

Leave a Reply

Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.