DI ATAS LANGIT

Posted By on April 3, 2020

Di atas langit masih ada langit. Mutiara hikmah ini benar-benar realibel dalam keseharian. Buktinya, ketika kita jumpai sosok yang benar-benar “super” (bagaikan di langit), maka pada kesempatan lain “pasti” kita jumpai sosok yang lebih super lagi. Baik wawasan, kharisma, kecerdasan, kepenulisan, kehafidan, speed thinking, logika anilisis, atau apapun namanya.

Namun kenyataannya, mutiara luar biasa itu jarang disadari. Maksudnya, lemah dalam penerapannya. Buktinya, ketika kita jumpai sosok super tersebut di sekitar kita, maka langsung terkagum padanya. Linglung tak berdaya dibuatnya. Seolah tak pernah mendengar di atas langit masih ada langit.

Baca Selengkapnya »

SUNNAH ROSUL

Posted By on April 3, 2020

Biarlah mereka memaknai sunnah rosul itu dg memelihara jenggot panjang dan jubahnya yg landung. (Mungkin) memang demikianlah Sang Rosul waktu itu. Ndak usah gumun ndak usah piye-piye padanya.

Biarlah mereka memahami sunnah rosul dg making love setiap malam Jumat. Memang haditsnya demikian. Silakan diamalkan.
Namun kiranya lebih mulia bila malam itu diisi dg sunnah rosul yg berupa perbanyak rialat riyadoh mujahadah, meper hawa nafsu, merangi nafsu hingga si nafsu patuh tunduk dijadikan tunggangan hati nurani-roh-rasa mendekat menuju hingga sampai pada-Nya.

Baca Selengkapnya »

BELAJAR TOPO

Posted By on April 3, 2020

Jaman kewaliyan dulu, toponya (bertapanya) memang ngalas. Bertapa ditengah hutan gung liwang liwung dalam rangka membeningkan hati musning maring Gusti. Juga dalam rangka mengeluarkan segala kadonyan dari hatinurani roh hingga rasa, agar kelet dg Wujud Yang Maha Sampurno.

Namun jaman sekarang, istilah sufinya jaman kemahdian, bertapanya tidak di hutan lagi. Tapi ditengah-tengah praja, di tengah-tengah supermall, di dalam turnamen, di tengah sekarat kritisnya jagad politik, di tengah bobroknya moral jaman, …dst-dsb.

Realisasinya?

Baca Selengkapnya »

ANTARA AYAT, AKAL, DAN NAFSU

Posted By on April 3, 2020

Secara rasional, menjadi hak dan keyakinan masing-masing dalam memaknai ayat “bahwa dikalanganmu ada Rasulullah” (Al Hujurat : 7).
Kemudian menjadi resiko masing-masing pula ketika memaknainya secara ngambang, atau setengah-setengah, atau bahkan yang sekaligus menginternalisasi hingga mendarah menafas.

Menjadi hak dan keyakinan masing-masing dalam mempersepsi khotamun nabi itu adalah rasul terakhir.
Menjadi hak dan keyakinan masing-masing pula dalam memaknai sekaligus merealkan Rasulullah itu abadi sampai kiyamat, walaupun jasadiahnya yang berganti-ganti.

Baca Selengkapnya »

EKUIVALENSI

Posted By on April 3, 2020

Wa’bud Robbaka hatta ya’tiyakal Yaqin” (QS.15:99).
Beribadahlah pada Tuhan mu sampai yaqin itu datang kepada mu.

“Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu.”(Manava Dharma Sastra III.97)

Aja nembah yen tan katingalan /
Temahe kasor kulane /
Yen siro nora weruh /
Kang sinembah ing dunyo iki /
Kadi anulup kaga /
Punglune den sawur /

Baca Selengkapnya »