BREAKING NEWS : Kenapa saya lahir

Posted By on April 3, 2020

Disela-sela mengajar matematika, memang saya selingi dengan “breaking news”. Temanya bisa berupa berita terupdate, kisah nyata dari alam ghaib, pertanyaan para siswa yg tertulis dalam “kitab kelas”, juga pengalaman langsung saya dan mereka.

Trenyuh rasanya membaca pertanyaannya, kenapa saya lahir.
Mbrebes mili, nangis nelongso rasanya.
Kenapa saya dulu wani-wanine (sok jagoan beraninya) menantang menerima amanah-Nya. Padahal waktu itu saya dan kawan2 tidak ditawari amanah.

Baca Selengkapnya »

BEDANYA JIWA & ROH

Posted By on April 3, 2020

Assalamu’alaikum pa ustad..
Sy msh belum tahu apa bedanya jiwa dgn ruh..yg nanti brtanggung jawab kpd ALLAH jiwa apa ruh…mhn penjelasannya dn terima kasih…ws

——————————————————————–

Jiwa itu lebih mudahnya menyebut adalah pasangan dari raga.
Jiwa yg dalam, raga yg luar.
Sama halnya lahir dan batin.

Unsur dasar, unsur inti manusia itu adalah rasa. Bukan jiwa, dan bukan pula roh.
Rasa merupakan fitrah manusianya. Rasa ini yg nantinya pulang dan bertanggung jawab atas apa yg diperbuatnya di dunia.

Baca Selengkapnya »

BELAJAR LEBUR

Posted By on April 3, 2020

Belajar lebur itu tdk menuntut haknya harus terpenuhi, seperti halnya mereka yg kadonyan. Walaupun secara manusiawi juga “mengurus” seperti lumrahnya.
Belajar lebur itu menghancurkan pengakuan keakuan kerumangsanan.
Belajar lebur itu meningkatkan status dari kewajiban jadi kebutuhan. Dari kebutuhan jadi kebiasaan keseharian. Dari kebiasaan keseharian, selanjutnya ditiadakan dinafikan.

Kongkritnya, ketika kerja yang biasanya dijanjikan upah, maka lebur itu kerja menafikan upah.
Ketika ibadah yang dijanjikan pahala (surga), maka lebur itu ibadah yang justru menafikan iming-iming surga. Memaksa hatinurani melupakan iming-iming pahala surga. Juga memaksa hatinurani menafikan takut cemplung neraka.
Ketika perjuangan pengorbanan kedudukan butuh pengakuan sesama, maka lebur itu meninggalkan (tidak butuh) itu semua.

Baca Selengkapnya »

KONSEP WAYANG–DALANG

Posted By on April 3, 2020

Rasanya ada dinding tipis yang menjadikan tidak sinkronnya konsep wayang–dalang : manusia adalah wayang dan Tuhan dalangnya. Yaitu ketika tingkat ekonomi kita yang begini2 saja, atau apapun “dep colot” kita yg juga begini2 saja, atau bahkan ketika iman taqwa kita yg juga “begini” saja, kemudian mengatakan kita kan wayangnya, Tuhan yang mengatur dan menggerakkannya. Sebagai wayang tinggal menjalani apa-apa kehendak Dalang.

Tidak sinkronnya adalah ketika merasa cukup (bisa juga merasa puas, atau merasa benar) atas kondisi saat ini. Bisa pula kenyataan iman taqwa yang diyakini dan dirasakan sekarang. Kemudian mengata, saya adalah wayang, sak dermo menjalani skenario Sang Dalang atas keadaan ataupun iman taqwa yg saya jalani saat ini.

Baca Selengkapnya »

UJIAN TERBERAT

Posted By on April 2, 2020

Salah satu murid peguron “ngelmu kasampurnan” matur gurunya :
“Wahai Guru, bolehkah saya ikut berjuang membantu para pejuang kemerdekaan, hanya dengan menggerakkan jari telunjuk saya, seperti menarik pelatuk senapan gitu saja, niscaya semua penjajah di bumi nusantara akan mati semua. Bolehkah Guru?”

Jawab Sang Guru :
“Ojo (jangan)! Durung wayahe, durung titi wancine. Lakon bangsa kita memang harus begitu. Loro lopo sengsara klengkengan, bahkan harus ditotohi (dibayar) dg tumpah darah dan nyawa. Sebab pada saatnya nanti, Nuswantoro akan menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi, aman tentrem kerto raharjo, hingga jadi pusat peradaban dunia, menjadi mercusuarnya dunia”.

Baca Selengkapnya »