MENGAPA KITA DIPINJAMI ROH?

Posted By on November 23, 2022

Sebelum paparan pengalaman dilanjut, perlu disadari dimaklumi bahwa pemahaman pengalaman masing-masing dalam berguru, khususnya perihal roh, tidak akan pernah sama. Karenanya, tidak perlu ada saling mengolok, saling menyesatkan, apalagi saling memaksakan pemahaman pada yang beda pengalaman. Mengaplikasi ayat laa ikroha fii ad-din dalam bershare dan berballighu ‘anni.

Memahami memaklumi dengan lapang dada bila pengalaman meguru jebolan TK SD tidak akan pernah sama dengan pengalaman jebolan PT. Demikian pula pengalaman sesama alumni PT, tidak akan pernah sama antara pengalaman sarjana nuklir dengan sarjana sastra. Pun pengalaman berthorikoh, berolah kebatinan, berilmu laduni, berilmu super tenaga dalam, …dst-dsb sangat mungkin tidak sama.

Baca Selengkapnya »

APAKAH SADAR = TAFAKUR?

Posted By on November 18, 2022

Sadar tidak sama dengan tafakur. Tapi sadar adalah salah satu hasil dari tafakur.
Sadar adalah wilayah hati. Sedang tafakur adalah sinergi harmonis antara akal nalar dan hati. Sadar yang jeruu bisa masuk wilayah roh. Sadar yang lebih jeruu lagi, bisa masuk wilayah rasa.

Contoh sadar hasil dari tafakur yang masuk wilayah hati adalah ketika merenung-renung tentang fakta penciptaan : mengapa saya dicipta dan didamparkan di muka bumi. Tafakur yang berhasil akan menemukan jawaban, sehingga menjadi sadar mengapa kita mesti dilahirkan ke dunia.
(https://ronijamal.com/breaking-news-kenapa-saya-lahir/)

Baca Selengkapnya »

BELAJAR BODOH

Posted By on November 6, 2022

Jangan prasangka dulu dengan judul! Belajar bodoh dimaksud bukan bodohnya otak. Atau membiarkan otak dalam kebodohan. Atau tak perlu belajar menjadi pandai cerdas. Tapi bodohnya rasa (perasaan). Yaa….belajar rumongso (merasa) bodoh, walau faktanya (mungkin) sangat pintar cerdas brilian.

Tentu saja, belajar bodoh dimaksud juga diluar makna kamus. Sebab dalam KBBI, bodoh adalah :
1 tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu atau tidak dapat (mengerjakan dan sebagainya).
2 tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman)

Baca Selengkapnya »

WAWASAN vs ILMU PERIHAL KEBERSIHAN

Posted By on October 31, 2022

Bila merujuk dalam KBBI, wawasan dimaknakan : hasil mewawas, tinjauan, pandangan, konsepsi cara pandang. Pemaknaan ini secara pengalaman dan internalisasi bisa kami simpulkan bahwa wawasan adalah pengetahuan pandangan pemahaman yang masuk otak. Jadi hanya masuk otak, tapi tidak sampai masuk di hati.

Sedang ilmu adalah pemahaman pengalaman yang masuk hati. Awalnya masuk otak, baru kemudian masuk hati. Sebagaimana tersirat dalam QS. Fathir 28: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang² yang berilmu.

Baca Selengkapnya »

MEMBUKA MATA HATI?

Posted By on October 27, 2022

Sebelum menuju bahasan “membuka mata hati”, ada baiknya bahasa pokoknya
diturunversikan, agar memudahkan pemahaman. Semisal dengan analogi sederhana “membuka otak”. Kemudian dimunculkan pertanyaan, apakah membuka otak bisa dilakukan dengan mudah?

Selanjutnya otak diberi garapan : untuk apa kita dilahirkan ke dunia ini, padahal tidak menginginkannya?
Bisakah otak menemukan jawab pastinya?

Baca Selengkapnya »

KAPAN BISA KETEMU TUHAN?

Posted By on October 20, 2022

Rasanya, pertanyaan yang pas TS sebelah (screenshot) bukannya kapan kita bisa bertemu Tuhan, tapi bisakah kita ketemu Tuhan? Sebab kapan dan bisakah itu konotasinya sangat jauh beda. Kalau kapan itu tinggal nunggu waktu untuk bisa bertemu. Sedang bisakah itu belum tentu bisa bertemu.

Faktanya memang demikian, tidak semua manusia yang berpulang (mati) bisa ketemu Tuhan. Justru banyak yang tidak bisa bertemu Tuhan. Tidak bisa masuk akherat. Kemudian masuk alam penasaran (alam kegelapan, alam kesesatan). Sekelas dengan alamnya demit setan druwo tuyul pocong kuntilanak ….dan lain sejenisnya.
(https://ronijamal.com/mati-slamet/
https://ronijamal.com/slamet-atau-tidak/)

Baca Selengkapnya »

BISAKAH DZIKIR BERKALANG KEMARAHAN?

Posted By on October 14, 2022

Bisa tidaknya dzikir saat dikalangi kemarahan, sangat tergantung beberapa faktor.
Pertama, faktor dzikirnya. Kebanyakan orang mempersepsi dzikir itu menyebut Asma (Asmaul Husna). Dan biasanya dilakukan dengan duduk bersila membaca sekian ribu kali. Padahal, bila telah menjalani fas-alu ahladzdzikkri (al Anbiya’ 7), yang praktiknya dengan yubayi’unaka (al Fath 10), bacaan itu belum disebut dzikir. Tapi masih dikatakan wirid. Sehingga ketika masih berstatus wirid, saat saudara kanan kiri depan belakang mengalangi dengan kemarahan, maka sangat² mungkin terganggu fokus wiridnya.

Sedangkan dzikir, dalam pengalaman fas-alu tersebut, adalah ingatnya hati pada Dzat (Wujud) Pemilik Asmaul Husna. Dzat yang memperkenalkan diri “Innani Ana Allah laa ilaaha illaa Ana fa’budnii” (sesungguhnya AKU adalah Allah, tiada sembahan selain AKU, maka sembahlah AKU).

Baca Selengkapnya »

BELAJAR TANPA GURU?

Posted By on October 8, 2022

Di jaman yang serba gogling sekarang, belajar tanpa guru memang dimungkinkan bisa. Semisal belajar program komputer, belajar mata pelajaran/kuliah, belajar merakit ini itu, dan lain sebagainya yang sifatnya rasional. Tentunya guru yang dimaksud adalah manusia secara fisik.

Namun belajar yang membutuhkan skill khusus, mesti perlu instruktur (guru). Tidak bisa belajar mandiri, sekalipun secara gogling dimungkinkan ada. Semisal belajar menerbangkan F16, belajar menjelajah ruang angkasa, belajar merakit bom atom, …dlsb.

Baca Selengkapnya »

PITUTUR NGGRANTES

Posted By on October 4, 2022

Bagaimana tidak dikatakan pitutur (nasehat) yang nggrantes (menyayat hati meratap sedih pilu), yang meninggal saja seolah-olah memberi nasihat langsung : ELINGO SIRO, SAIKI AKU SESUK KOWE (ingatlah kalian, sekarang saya yang mati, besok kamu).

Nggrantesnya, walau hanya tulisan, seolah mewakili yang terbujur kaku didalamnya memberi nasehat. Sedang biasanya, bila yang menuturi adalah sesamanya, kyai tokoh ulama ortu, hasilnya kurang menusuk relung jiwa. Seolah seperti angin lalu.

Baca Selengkapnya »

BELAJAR ILMU IKHLAS?

Posted By on September 27, 2022

Banyak orang mengatakan aku ikhlas kehilangan ini itu. Aku ikhlas hutangnya tidak dibayar. Aku ikhlas kepergian/kematiannya. Aku ikhlas dimadu, dst-dsb. Apakah ungkapan-ungkapan ikhlas itu benar-benar ikhlas?

Belum tentu. Sebab ikhlas itu tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Ikhlas itu tidak bisa dimisalkan dengan buang hajat, yang bersih tidak nyanthol dalam hati. Ikhlas juga tidak bisa disejajarkan tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu apa-apa.
(https://ronijamal.com/rasionalisasi-ikhlas/)

Baca Selengkapnya »