SPARING NALAR : Dimana Kata Ikhlasnya?

Posted By on December 4, 2021

Tulisan sebelumnya, “Rasionalisasi Ikhlas” telah membahas apa itu ikhlas dari sisi rasionalnya. Bukan sekedar tangan kanan berbuat baik, tangan kiri tidak tahu. Bukan sekedar buang kotoran yang tidak mengharap balik kembali. Tapi lebih jeruu dan mendasar.
(https://ronijamal.com/rasionalisasi-ikhlas/)

Juga tulisan “Belajar Ikhlas”, telah membahas secara detail, bagaimana belajar ikhlas dari pengalaman berguru. Yaitu ketika mampu mewujudnyatakan (makna jeruu dari Qul : katakan) HUWA itu Yang Ahadiyat. Menyatakan HUWA Yang Maha Wujud. HUWA Yang Maha Ada. Juga Yang Maha Bisa, Yang Maha Punya, Yang Maha menggerakkan, dan Maha Segala-galanya. Selanjutnya bergantung sepenuhnya pada HUWA. Tidak menggantikan sandaran lain selain-NYA. Menjadikan HUWA sebagai tempat bergantung, tempat meminta, dan tempat mengadu.

Baca Selengkapnya »

MA’RIFAT ITU…

Posted By on November 27, 2021

Ma’rifat itu, seperti ketika Sunan Kalijogo dibaiat Guru Beliau, langsung menyatakan mati sementara, fan-dzat, mlebu alam kasampurnan. Beberapa saat kemudian dihidupkan normal lagi sebagai layaknya manusia.

Ma’rifat itu, seperti ketika gurunya gurunya gurunya….Guruku (dalam rantai silsilah) melakukan takbirotul ikrom, langsung leeess mlebu akherat. Mati sementara selama sholat itu berlangsung. Begitu imam sholat mengucap salam (tanda sholat selesai), Beliau terbangun dari akherat. Karenanya sholat disebut mi’rojul mu’minin.

Baca Selengkapnya »

BEBASKAN KEJAHATAN DIRI

Posted By on November 26, 2021

Diri ini jahat?
Begitulah ketika menyelami kedalaman makna innahu kaana dzaluman jahuula (QS.33:72). Sesungguhnya manusia itu kejam (jahat) lagi bodoh.

Adalah vonis yang diberikan Tuhan kepada makhuk yang bernama manusia ketika masih di alam fitrah (alam dzar, alam arwah). Masih berupa fitrah, belum berwujud manusia. Belum punya akal nalar. Belum bisa berpikir, menalar, merasional. Namun sudah tervonis kejam (jahat) lagi bodoh.

Baca Selengkapnya »

MENGAPA MERASA MEMILIKI?

Posted By on November 9, 2021

Dari berbagai literasi, alasan sederhana mengapa merasa memiliki adalah karena manusiawi. Alasan lainnya : kedunungan (punya) nafsu, perbuatan salah yang tidak disadari manusianya, hidup yang penuh halu, sumber penyakit dan pikiran, …dst-dsb.

Sedang umpan rumit yang bisa kami sparingkan (pengalaman olah nalar dan pitutur Guru), mengapa merasa memiliki adalah karena kinerja alami dari roh yang dalam keadaan sadar. Roh yang adalah Daya Kuat Daya Bisa Daya Punya Daya Milik dari/milikTuhan yang dipinjamkan pada fitrah manusia ketika masih berumur 120 hari dalam kandungan.

Baca Selengkapnya »

MEMULUNG KANCRITAN BIJAK MENIKAH

Posted By on October 28, 2021

Secara umum, menikah ideal itu dilandasi beberapa fondasi dasar, diantaranya : seia sekata, materi cukup, umur cukup, mental spiritual siap, dan sepakat kedua walinya.

Walaupun terkadang ada beberapa kasus khusus yang menafikan fondasi dasarnya. Semisal : aturan adat, kecelakaan pergaulan, terseret arus budaya, terjerat tsunami media, keterpaksaan, dan lain sebagainya.

Baca Selengkapnya »