Mengajar Bisa Mengajar

Posted By on March 21, 2010

Mengajar, yang biasa dilakukan para guru adalah agar siswa yang diajar “bisa” atas materi yang diajar. Syukur mampu menguasai.

Lebih dari itu, idealnya, target mengajar tidak hanya sekedar bisa dan menguasai. Tetapi trampil mengerjakan soal-soal variannya.Trampil pula menyelesaikan masalah-masalah kehidupan terkait materi ajar tertentu.

Sayangnya, rumusan target mengajar yang ideal tersebut belum sepenuhnya dapat terpahami. Masih jauh di angan, apalagi terealisasikan. Terkontaminasi “virus mengajar”. Seperti misalnya, adanya persepsi yang penting mengajar. Bisa atau tidak, menguasai atau malah tidak nyambung itu urusan siswa. Mereka kan anak orang lain, mengapa diambil pusing (atas bisa tidaknya)? Ada pula yang sering memberi tugas disambi ngobyek lain. Dan masih banyak lagi virus mengajar yang lain.


Akibat virus tersebut, maka, ketika hasil ulangan jeblog misalnya, biasanya yang disalahkan adalah siswa. Belajarnya yang kurang serius, tidak memperhatikan ketika diajar, hanya mengandalkan turunan dari teman, terjebak budaya negatif copy paste, ataupun alasan-alasan lain.

Tapi ada pula yang “kebablasan” perhatian pada siswa. Takut dan cemas yang berlebihan bila siswanya tidak lulus atau dapat nilai jelek. Memberi nilai berlebih pada siswa “kesayangan” yang sebenarnya pas-pasan, dan lain sebagainya.

Dampaknya kemudian berani mengorbankan “harga diri” sebagai guru–yang mestinya mencerdaskan murid berubah jadi “dewa katrol” (nilai). Misalnya dengan memberitahu jawaban ketika unas berlangsung, atau berdalih demi masa depan anak bangsa, biarkan mereka “kerja sama” demi kelulusannya.

Sungguh disayangkan bila dua hal itu (virus mengajar maupun yang kebablasan) terjadi. Akibatnya jelas tidak baik pada mental dan sikap siswa. Kepribadiannya jadi tidak mantap. Keyakinan dan konsep jati diri menjadi rapuh.

Guru yang bijak tentunya tidak akan mau terjebak “lembah hitam” dan budaya buruk. Akan menjunjung tinggi profesi pendidik yang mulia. Sadar diri sebagai panutan (digugu dan ditiru) para siswanya.

Tetapi apa mau dikata, kenyataan di lapang berbicara lain. Mau mengajar yang ideal jelas sulit. Faktor yang merintangi teramat banyak. Ending-nya, pasrah pada kebiasaan lama. Yang penting mengajar yang baik seperti biasa. Atau bila memungkinkan sedikit usaha menuju yang lebih baik.

Skeptis, apatis, ataupun “lemah syahwat” dalam mengajar perlu ditepis dan dibuang jauh. Semboyan Plutarch (3000 tahun yang lalu) “otak bukanlah wadah kosong yang harus diisi, melainkan api yang harus dinyalakan”, harus dibangkitkan.

Mengajar tidak hanya “mengisi” otak siswa, tapi menstimulus agar otaknya bisa terbakar. Kemudian mampu membakar diri dan semangatnya untuk terus belajar. Sebab tanpa dirangsang atau dipantik, “mustahil” ia bisa terbakar sendiri.

Banyak teori belajar mengajar yang dapat diterapkan. Teori quantum learning maupun quantum teaching (salah satunya) bagus diterapkan. Pendekatan learning by doing sangat ampuh. Berbagai teori, pendekatan, maupun strategi yang lain semuanya baik. Tinggal meramu menyesuaikan dengan waktu, materi, sarana, serta potensi kemampuan siswa.

Namun ada satu cara/strategi lain yang cukup ampuh. Mungkin “super ideal”, walaupun belum terakui. Ia adalah teori “mengajar bisa mengajar”. Teori yang membahas tentang mengajar sekaligus mengajari siswa bisa mengajar. Nampaknya memang “mustahil”, tapi nyata adanya. Telah saya praktikkan dan cukup signifikan hasilnya.

Teori ini dilandasi oleh beberapa teori dan konsep pendukung. Pertama, teori learning by doing. Siapa pun membenarkan bahwa konsep ini sangat jitu diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Kedua, memanfaatkan kemampuan super yang dimiliki sebagian siswa. Siswa yang istimewa kadang mudah jenuh dan bosan menerima pengajaran yang monoton dan kurang menantang. Maka selayaknya bila diperlakukan lebih.

Ketiga, sikap mental siswa yang kadang suka cari perhatian. Karenanya perlu disalurkan ke arah positip dan konstruktif.

Keempat, adanya perintah “sampaikan apa yang kamu ketahui walau hanya satu ayat (satu pengetahuan)”. Perintah ini mau tidak mau harus dilaksanakan. Dosa bila meninggalkannya. Termasuk pengetahuan (pengalaman) bisa mengajar, maka wajib pula ditularkan pada siswa yang menjadi obyek ajar.

Kelima, diakui atau tidak semua manusia pasti jadi pendidik. Bersekolah atau tidak, ketika berumah tangga nanti, pasti akan mendidik dan mengajar anak-anaknya. Karenanya, tidak ada salahnya dikenalkan latihan mendidik dan mengajar semenjak bangku sekolah.

Keenam, membekali siswa ketrampilan berbicara di depan orang lain. Melalui strategi learning by teaching (belajar sambil mengajar) sebagai media latihannya.

Ketujuh, para guru (pengajar) sendiri ternyata tidak sedikit yang berlatar belakang non kependidikan. Nyatanya juga bisa mengajar dengan baik–walaupun ada kurang lebihnya. Sehingga bisa ditarik konklusi bahwa mengajar adalah sebuah ketrampilan tersendiri yang tidak mensyaratkan pendidikan keguruan. Yang penting bisa menyampaikan materi ajar dengan baik, maka boleh-boleh saja menjadi pengajar.

Kedelapan, landasan pemikiran mengajar bisa mengajar tersebut telah saya terapkan kehandalannya. Ia bukan sekedar teori. Tapi nyata adanya. Saya telah membuktikannya. Beberapa alumni, setelah saya ajar dan tamat SMA, ada yang diterima sebagai tenaga pengajar di lembaga pendidikan lain. Baik dari jenjang TK, SD, maupun SMP.

Walaupun kemampuannya sangat terbatas, tidak menjadi masalah. Toh mereka “bisa”. Mereka nyatanya juga berusaha mengembangkan diri. Sambil bekerja (mengajar), belajar lagi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (kuliah). Sehingga perlu dijargonkan “mengajar bisa mengajar” adalah tantangan yang riil dan niscaya.

Catatan:

Tulisan ini dimuat Radar Kediri pada Senin, 22 Maret 2010.

About the author

Seorang Dosen Di STT POMOSDA, Guru Matematika SMA POMOSDA (1995 – sekarang), dan Guru "Thinking Skill" SMP POMOSDA yang mempunyai hobi Belajar-Mengajar Berpikir, Mencerahkan Pemikiran

Comments

Leave a Reply

Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.