SELALU TERBIT BINTANG SAMPAI KIAMAT

Posted By on May 31, 2025

Adalah sabda Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, al-Hakim dan Adz-Dzahabi :
Bersabda Rasuluillah Saw: “Aku adalah kotanya ilmu dan kamu Ya Ali adalah pintunya. Dan janganlah masuk kota kecuali dengan lewat pintunya. Berdustalah orang yang mengatakan cinta kepadaku tetapi membenci kamu, karena kamu adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari kamu. Dagingmu adalah dagingku, darahmu adalah darahku, rohmu adalah rohku, rahasiamu adalah rahasiaku, penjelasanmu adalah penjelasanku. Berbahagialah orang yang patuh kepadamu dan celakalah orang yang menolakmu. Beruntunglah orang yang mencintaimu dan merugilah orang yang memusuhimu. Sejahteralah orang yang mengikutimu dan binasalah orang yang berpaling darimu.
Kamu dan para Imam dari anak keturunanmu sesudahku ibarat perahu Nabi Nuh; siapa yang naik diatasnya selamat, dan siapa yang menolak (tidak naik) akan tenggelam. Kamu semua seperti bintang; setiap kali bintang itu tenggelam, terbit lagi bintang sampai hari kiyamat”.

Hadits di atas dengan jelas dapat disimak bahwa Nabi Muhammad SAW telah memproklamasikan : “aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya”.
Pernyataan tersebut kalau “dicermati”, akan didapat dua permasalahan. Yaitu pernyataan diri Nabi SAW sebagai kota ilmu dan penegasan/pengangkatan Ali bin Abu Thalib sebagai pintu memasuki kotanya.

Pendeklarasian sebagai kota ilmu sekaligus penunjukan pintu untuk bisa memasuki kotanya, secara logika tentu akan mengundang berbagai pertanyaan. Misalnya, sebagai kotanya ilmu, ilmu apakah atau ilmu yang manakah gerangan ? Apakah ilmu fisika, ilmu astronomi, ilmu aljabar, ilmu kedokteran ataukah ilmu-ilmu yang lain ?

Demikian pula tentang pengangkatan Ali bin Abu Thalib sebagai pintunya. Siapakah beliau sebenarnya, dari kalangan bangsa manakah, faktor apakah yang melatarbelakangi hingga beliau begitu sangat istimewa di hadapan Nabi SAW ?

Sementara itu bila dilihat dari latar belakang pendidikan, serta kehidupan beliau (Nabi SAW) sejak kecil yang selalu dalam keadaan “susah”, hingga saking susahnya tidak pernah memikirkan bangku sekolah, kiranya sangat tidak mungkin beliau menguasai ilmu-ilmu tersebut. Apalagi hingga menamakan diri sebagai kota ilmu. Lantas ilmu yang manakah gerangan ?

Disinilah yang seharusnya memerlukan kajian yang extra teliti. Bahwa Nabi SAW memproklamirkan diri sebagai kota ilmu, adalah ketika secara resmi telah diangkat sebagai Utusan Tuhan (Rasulullah). Yaitu sebagai Wakil Tuhan dalam rangka membimbing umat manusia memenuhi kehendakNya. Membawa ummat berjalan di atas jalanNya, hingga dengan sendirinya sangat butuh bertemu lagi denganNya. Karena sadar sesadar-sadarnya bahwa dunia adalah fanak, tidak ada, serta merupakan materi ujian yang harus diselesaikan.

Oleh karenanya, ilmunya pun adalah ilmu sesuai dengan yang telah diberikan Tuhan kepada beliau. Yaitu ilmu yang memperkenalkan kembali keberadaan jati diri hamba dengan Keberadaan Jati Diri Tuhan. Memperkenalkan kembali Dzat Tuhan yang kenyataannya di alam “cobaan” ini sama sekali dilupakan manusia. Ilmu yang memperkenalkan kembali persaksian yang telah dilakukan manusia di hadapan Tuhan. Yaitu persaksian yang telah diberikan ketika masih berada di alam Dzar (alam yang ada hanya Dzat Tuhan dengan rasa manusia).

Kemudian setelah mengenal kembali apa yang telah disaksikan (dilihat), selanjutnya dijadikan “Total Target” yang hendak dituju dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, sesuai dengan kehendak Tuhan yang telah disampaikan kepada UtusanNya. Hingga ketika mati yang setiap saat pasti terjadi, bisa selamat pulang kembali disisi Dzat Yang Berkuasa.

Persaksian yang dimaksud adalah seperti yang difirmankan dalam QS. Al A’raf 172 : …alastu birabbikum qaalu balaa syahidna. Bukankah AKU ini Tuhanmu, begitulah kalimat persaksian yang diberikan Tuhan. Kalimat tersebut menggunakan kata AKU, ini berarti bahwa Dzat Tuhan menampakkan diri (ngejawantah) didepan hamba. Kemudian semua manusia yang waktu itu masih berupa sirr=rasa menjawab : benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. Semua manusia tanpa terkecuali, apakah yang akan dijadikan Utusan Tuhan, hamba biasa ataupun yang akan menjadi pembangkang terhadap perintahNya, semuanya bersaksi. Semuanya mengetahui persis, mengetahui dengan pasti atas Keberadaan Dzat Tuhan. Sehingga karena dengan yakinnya melihat/menyaksikan kemudian mau bersaksi.

Kemudian mengenai penegasan/pengangkatan Ali bin Abu Thalib sebagai pintu memasuki kota ilmu. Ini menunjukkan bahwa beliaulah yang “terpilih” melanjutkan fungsi dan tugas Nabi SAW agar ummat manusia yang mengaku sebagai Muhammad SAW bisa memasuki (menjelajahi dan mengamalkan sepenuhnya) ilmu yang telah beliau “gelar”. Karena Nabi SAW secara fisik juga manusia biasa yang pada saatnya pasti akan meninggalkan dunia (mati), maka beliau (berdasarkan petunjuk Tuhan tentunya) melakukan “regenerasi” kepemimpinan.

Selanjutnya yang menjadi permasalahan baru, mengapa yang terpilih Ali bin Abu Thalib yang konon hanya hamba biasa, bukan para tokoh pemikir ataupun bangsawan yang waktu itu juga banyak di dapat (yang pada akhirnya menimbulkan kecemburuan sesama mereka) ? Permasalahan inilah yang “seharusnya” dimengerti oleh umat manusia, bahwa Tuhan Maha Kuasa segala-galanya. Tidak dapat diprediksi sedikitpun apa yang akan menjadi keputusanNya. Termasuk ketika akan mengangkat Nabi SAW sebagai UtusanNya, yang menurut ukuran akal jauh sekali kemampuan intelektual maupun ketokohannya dibanding dengan “elit bangsawan” yang ada pada waktu.

Demikian pula ketika Nabi SAW menghendaki Ali bin Abu Thalib sebagai pintu untuk bisa memasuki ilmu yang dibawanya, yang juga jauh sama sekali dengan prediksi para tokoh waktu itu. Hal demikian sudah tentu bukan atas dasar inisiatip Nabi SAW sendiri, melainkan (sudah tentu) atas petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Disamping penegasan sebagai “pintu”, dilengkapi pula dengan berbagai gelar khusus yang mengokohkan kedudukan Ali. Sebaliknya, disebut beliau berdusta bila umatnya mengatakan cinta kepada Nabi SAW tetapi membenci Ali. Gelar khusus yang telah diberikan kepada Ali diantaranya :
1. Kamu (Ali) adalah bagian dariku (Nabi) dan aku (Nabi) adalah bagian darimu (Ali).
2. Dagingmu (Ali) adalah dagingku (Nabi).
3. Darahmu (Ali) adalah darahku (Nabi).
4. Rohmu (Ali) adalah rohku (Nabi).
5. Rahasiamu (Ali) adalah rahasiaku (Nabi).
6. Penjelasanmu (Ali) adalah penjelasanku (Nabi).
7. Berbahagialah orang yang patuh kepadamu (Ali) dan celakalah orang yang menolakmu.
8. Beruntunglah orang yang mencintaimu (Ali) dan merugilah orang yang memusuhimu.
9. Sejahteralah orang yang mengikutimu (Ali) dan binasalah orang yang berpaling darimu.

Dari ke sembilan gelar khusus yang diberikan kepada Ali bin Abu Thalib tersebut bisa dicermati, betapa istimewanya kedudukan beliau dihadapan/disisi Nabi SAW. Seolah-olah bisa dikatakan kedudukan beliau bagaikan Harun dengan Musa. Atau bagaikan Ibrahim dengan Ismail. Satu sama lain sangat menguatkan, satu sama lain saling melanjutkan tugas dan fungsi sebagai Utusan Tuhan. Bahkan boleh dikatakan sebagai ”duplikat” Nabi SAW, sama persis dengan Nabi SAW.

Dari dua hal yang telah dibahas, ada satu hal lagi yang juga sangat menentukan. Yaitu “kamu dan para imam dari anak keturunanmu sesudahku adalah ibarat perahu Nuh”. Ini artinya, antara Ali dan para imam dari anak keturunan Ali adalah bagaikan perahu Nuh yang menyelamatkan. Singkatnya, setelah Ali wafat nanti akan dilanjutkan oleh anak keturunan Ali yang berkedudukan sebagai imam, yang akan melanjutkan tugas Ali bin ABu Thalib (yang diterima dari Nabi SAW) untuk menunjukkan pintu memasuki ilmu Nabi SAW. Sudah tentu, penunjukan Ali kepada keturunan beliau atau penunjukan keturunan beliau kepada keturunannya lagi, atas dasar petunjuk dari Tuhan. Sama sekali bukan dari rekayasa ataupun inisiatip sendiri. Murni karena kehendak Yang Maha Kuasa semata. Seperti halnya ketika Nabi akan mengangkat Ali sebagai pintu memasuki ilmunya.

Selanjutnya, “siapa yang naik diatasnya akan selamat dan siapa yang menolak (tidak naik) akan tenggelam”. Realnya, siapa yang mengikuti semua petunjuk dan tuntunan Ali beserta para imam sesudahnya akan diselamatkan Tuhan, tetapi bila menolaknya akan ditenggelamkan dalam bencana yang memang sudah disiapkan bagi hamba yang mengingkari Ayat-ayatNya. Seperti halnya umat-umat terdahulu (sebelum Nabi SAW) yang dimusnahkan Tuhan karena mengingkari atas diturunkannya Rasul ditengah-tengahnya.

Keberadaan Ali dan para imam dari anak keturunan beliau ini adalah seperti bintang, yang memberi cahaya penerang ketika kegelapan datang. Setiap kali bintang itu tenggelam akan terbit lagi sampai hari kiyamat. Setiap kali para Imam itu meninggal dunia akan muncul lagi Imam yang lain sebagai pelanjut yang akan meneruskan tugas para Imam sebelumnya hingga kiyamat yang akan mengakhirinya. Kemunculannya sama sekali tidak dapat diprediksi oleh manusia. Sama sekali bukan karena atas dasar musyawarah ataupun keturunan darah, melainkan memang sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa.
Semoga, kita mendapatkan butiran ilmuNya dimengertikan apa yang telah menjadi ayat-ayatNya, serta diberi kekuatan untuk menjelajahi kota ilmuNya. Amien.

.

About the author

Seorang Dosen Di STT POMOSDA, Guru Matematika SMA POMOSDA (1995 – sekarang), dan Guru "Thinking Skill" SMP POMOSDA yang mempunyai hobi Belajar-Mengajar Berpikir, Mencerahkan Pemikiran

Comments

Leave a Reply

Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.