BISAKAH MEMISAH EMOSI DARI LOGIKA?
Posted By Roni Djamaloeddin on October 29, 2025
Satu kasus sederhana, saat sandal baru-mahal hilang ketika jumatan di masjid, apa bagaimana reaksi pemiliknya?
Ketika marah dendam emosi, berarti tidak akan bisa memisah emosi dari logika.
Namun ketika ada butir-butir sabar nglenggono lapang dada, maka ada peluang bisa memisah emosi dari logika.
Kok, begitu?
Sebab ketika yang default dalam dada adalah hati sanubari, maka jiwanya pasti dikuasai marah dendam emosi. Akal nalar pun tunduk padanya. Sehingga penalaran bebas merdeka mencari solusi terbaik, atau solusi bijak, tidak akan muncul.
Sebaliknya, ketika hati nurani mulai tumbuh, maka marah dendam emosi tidak lagi menguasai jiwa. Sudah tumbuh bibit sabar lapang dada. Maka mulai tumbuh kesadaran bila barangku bukan milikku sepenuhnya.
Perihal defaultnya hati (dari dua hati) yang ada dalam dada, tersirat dalam al Ahzab 4 : Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.
Maksudnya, dua hati tidak akan berfungsi bersama. Ketika sanubari yang berfungsi, maka nurani mati. Sebaliknya, ketika nurani yang berfungsi, maka sanubari yang akan mati.
Dipertegas fatwa Imam Ali bahwa akal nalar itu mengada (berfungsi) di antara dua hati. Ketika sanubari yang berfungsi, maka akal nalar akan diboyong/terboyong ke arah sanubari. Sebaliknya, ketika nurani yang berfungsi, maka akal nalar akan diboyong/terboyong ke arah nurani.
Kasus sederhana di atas bisa dicermati dibuktikan dan dirasakan. Selanjutnya ditanyakan pada lubuk hati yang paling dalam. Maka dengan jujur dan kesatriya akan tegas menjawab bila marah dendam emosi masih sering menguasai jiwa, dari pada sabar nglenggono lapang dada, pada berbagai kasus.
Lantas, bagaimana memisah emosi dari logika?
Pertama, menyadari adanya dua hati dalam dada. Punya tugas fungsi dan kedudukan dalam kehidupan manusia. (ronijamal.com/dua-hati/)
Kedua, untuk melerepkan atau menundukkan kridanya sanubari, sekaligus mengubah defaultnya sanubari sedini mungkin, maka nurani mesti dicerdaskan. Tidak hanya otak saja yang mesti dicerdaskan. (ronijamal.com/mencerdaskan-hati-nurani/)
Ketiga, cara mencerdaskan hati nurani, yaitu dengan diberi ilmu dzikir. Nurani mesti digurukan, disekolahkan, diprivatkan secara khos. Memenuhi perintah Tuhan : fas-alu ahladzdzikri inkuntum laa ta’lamuna. Bertanyalah (bergurulah) ilmu dzikir bila tidak tahu apa bagaimana ilmu dzikir itu. (ronijamal.com/dzikir-tertinggi/)
Keempat, setelah nurani punya ilmu dzikir, maka proses memisah emosi dari logika bisa dijalankan. Sebaliknya, tanpa ilmu dzikir, maka selama hidup tidak akan pernah bisa melerepkan dan mengendalikan emosi.
Namun demikian, punya ilmu dzikir tidak jaminan bisa memisah emosi dari logika. Berbanding lurus dengan niat tekad semangat kerja keras nderek dawuh Ahli Dzikir yang memberi ilmu. Juga turunnya berberan syawab dan berkah pangestu rasulullah.
___251025–belajar istikomah tumakninah nderek Guru (Romo Kyai Tanjung)
.


Comments
Leave a Reply
Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.