EKUIVALENSI

Posted By on April 3, 2020

Wa’bud Robbaka hatta ya’tiyakal Yaqin” (QS.15:99).
Beribadahlah pada Tuhan mu sampai yaqin itu datang kepada mu.

“Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu.”(Manava Dharma Sastra III.97)

Aja nembah yen tan katingalan /
Temahe kasor kulane /
Yen siro nora weruh /
Kang sinembah ing dunyo iki /
Kadi anulup kaga /
Punglune den sawur /


Endi ingaran sembah sejati /
Dimana yg dikatakan bersembah yg sesungguhnya.

Aja nembah yen tan katingalan /
Jangan menyembah kalau tidak kelihatan. Jangan menyembah kalau mata hati tidak tahu hakekat Wujud yang disembah.

Temahe kasor kulane /
Ujung-ujungnya sia-sia yang didapatinya.

Yen sira nora weruh /
Kalau Anda tidak tahu (hakekat Wujud yang disembah)

Kang sinembah ing donya iki /
Yang disembah dalam kehidupan dunia ini

Kadi anulup kaga /
Bagaikan menulup (menyumpit/menembak) burung

Punglune den sawur /
Pelurunya disebar tak karuan, tak tentu arah

Manuke mangsa kenaa /
Mana mungkin bisa mengenai burungnya

Awekasa amangeran adam sarpin /
Pada akhirnya menuhankan “adam sarpin”. Adam (tidak ada), dzisharafin (dianggap mulia). Sesuatu yg dianggap mulia, padahal sejatinya tidak ada.

Sembahe sia-sia //
Bersembahnya sia-sia, tiada guna.


Lebih lanjut Sunan Bonang memberikan petunjuk utk berguru, yg tersirat dalam Sekar Macapat Dhandhanggula:
Lamun sira anggeguru kaki /
Ketika Anda mengambil langkah utk meguru.

Amiliha manungsa kang nyata /
Memilihlah manusia yang “nyata”. Semaksud dg Imamu Mubin. Juga semakna dg Imam Zaman.

Ingkang becik martabate /
Yang baik martabat atau derajadnya. Yaitu melingkupi 4 martabat sekaligus. Mursyidun, murbiyun, nasihun, dan kamilun.

Sarta kawruh ing hukum /
Serta punya pengetahuan perihal hukum. Hukumnya Tuhan sebagai satu-satunya hukum yg sempurna.

Kang ngibadah lan kang wirangi /
Yang ahli ibadah dan yang punya wara’ (wirangi).

Sokur oleh wong tapa /
Syukur menemukan ahli petapa. Petapa hatinya. Hati yang topo ing sak tengahing praja, nyingkrih sak tengahing kalangan.

Ingkang wus amungkur /
Yang sudah selesai, katam, bahkan nafi hati jiwanya perihal dunia. Hatinya telah bersih dari segala dunia berikut akon-akon (pengakuan) perihal dunia.

Tan mikir paweweh ing liyan /
Tak pernah berpikir sedikitpun akan pemberian orang lain. Apa itu pemberian gaji, upah, imbalan, atau apapun nama pemberian dari sesamanya. Sebab hatinya telah maqam di dzikir (isinya ilmu dzikir).

Iku pantes sira guranana kaki /
Itulah yang pantas Anda gurui, segala langkah kebijakan digugu dan ditiru lahirnya dan batinnya, hingga hati nurani roh dan rasanya.

Sartane kawruhana //
Serta segala sesuatu pengetahuan pemahanan serta segala dawuh petunjuk dan larangannya, kerjakanlah dg sepenuh hati.

.

About the author

Seorang Dosen Di STT POMOSDA, Guru Matematika SMA POMOSDA (1995 – sekarang), dan Guru "Thinking Skill" SMP POMOSDA yang mempunyai hobi Belajar-Mengajar Berpikir, Mencerahkan Pemikiran

Comments

Leave a Reply

Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.