SEDULUR PAPAT LIMO PANCER

| May 7, 2020

Mengenal dan menyelami sedulur papat limo pancer, yang muncul di mbah gogel, sangat banyak sekali variannya. Karenanya, bila tidak punya pakunya (ilmu) “jagad bawono sughro”, yaitu jagad kecil yang mengada di dadanya masing-masing, bisa menimbulkan kebingungan. Atau kegamangan. Atau kegilaan bagi penyelamnya. Atau bahkan sebaliknya : tuduhan aliran sesat. Sebaliknya, bila sudah necep ngelmu tersebut, […]

KLASIFIKASI MATI

| April 30, 2020

Menurut pengalaman dan keyakinan saya, perihal mati, setelah meguru “ngelmu pati”, ngelmu “muutu qabla anta muutu”, ngelmu ma’rifat, ngelmu an nubuwah, ngelmune imamu mubin, ngelmune satriyo piningit, ngelmune imam zaman, ngelmune Imam Mahdi, bahwa mati itu dapat diklasifikasikan menjadi dua macam. Mati yg tersesat (kesasar). Yaitu ketika mati roh-nya lepas (cepot) dari raganya. Karena roh-nya […]

KECEWA DENGAN BIJAK

| April 30, 2020

Kecewa adalah hal yang lumrah. Manusiawi. Mengapa? Karena itu gawan bayi setiap manusia. Sebaliknya, tidak ada manusia yang bebas dari kecewa. Sekalipun kyai ulama tokoh super hebat, pasti pernah terjebak kecewa. Apa/siapa itu kecewa? Kecewa adalah salah satu pasukan elit hati sanubari. Masih ratusan pasukan lain yang bermarkas di hati ini. Seperti : pegel, jibek, […]

YANG BENAR DIKUBUR APA DIBAKAR?

| April 28, 2020

Jawabnya adalah sesuai iman keyakinan masing-masing. Yang meyakini dan menggunakan syareat dikubur, maka yang benar adalah yaa yang dikubur. Karenanya, dibakar adalah tidak benar. Sebaliknya, bila yang meyakini dan menggunakan syareat dibakar, maka yang benar adalah yaa yang dibakar. Karenanya, dikubur adalah tidak benar. Namun analisa rasionalnya, jasad ini adalah kendaraan pinjaman dari Tuhan. Namanya […]

TIDAK BISA MENYALAHKAN

| April 20, 2020

Informasi apapun dari manapun dan dari siapapun, yang kemudian dipahami diyakini yang selanjutnya diamalkan, maka diri sendirilah yang akhirnya menanggung segala resikonya. Baik resiko yang baik maupun resiko yang sangat buruk. Tidak bisa menyalahkan si pemberi informasi. Sekalipun itu dari teman, orang tua, guru, tutor, bahkan yang diyakini “akabir ulama”. Termasuk pula dari tulisan ini.