TERSINGGUNG vs MERENUNG

Posted By on May 21, 2025

Antara tersinggung dan merenung, yang tahu adalah diri sendiri. Cirinya sederhana, saat tersinggung berarti ada yang “nyenggol” (menyinggung) hati atau merasa sakit hati. Sedang merenung, saat ada upaya pemikiran perbaikan, koreksi diri, atau evaluasi. Merenung bisa disebabkan dari tersinggung, bisa pula peristiwa lain dalam diri atau luar diri.

Yang jadi masalah adalah ada apa dengan tersinggung. Kemudian bagaimana mengatasinya?
Sebab menurut Imam Syafi’i, tersinggung masuk katagori orang bodoh. (ronijamal.com/mudah-tersinggung/)

Pengalaman berspiritual kami, tersinggung adalah ungkapan pernyataan hati sanubari (bukan hati nurani). Adalah hati yang didalamnya bermarkas watak/sifat buruk : acuh, senang memuji diri, pamer, senang mencari aibnya orang lain, senang menganiaya, berdusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.

Tersinggung dan berbagai watak/sifat buruk lainnya (nafsu amarah, nafsu lawamah) mesti dilumpuhkan dilerepkan. Bersamaan dengan berusaha kuat menumbuhkan watak/sifat baik mulia dalam hati nurani. Sebab,a ketika tidak dilerepkan akan menghalangi dan merampok cita mulia fitrah manusia pulang menyatu dengan Tuhan. Bahkan melawan menyerang proses ilaihi rojiuna.

Kemudian yang dipupuk disuburkan adalah watak/sifat/nafsu kebaikan. Nafsu baik yang ada di dalam hati nurani maupun yang di seluruh jasad. Nafsu baik tersebut adalah mulhimah, muthmainah, radiyah, mardiyah, kamilah. Di antara bala tentaranya : pribadi yang mulia, zuhud, lkhlas, waro, riyadhah, menepati janji, dst-dsb. (ronijamal.com/tujuh-macam-nafsu/)

Sebuah contoh kasus nyata, ketika ada yang memberi tahu bahwa makna al Baqarah ayat satu (aliflammim), bisa berpuluh-puluh juz. Jauh lebih luas dari makna yang biasanya ada, hanya Tuhan yang tahu.
Maka yang merasa punya banyak pengalaman dan belajarnya sangat tinggi jauh hingga sundul langit, mungkin akan tersinggung. Mungkin juga bisa esmosi besar.

Namun bagi yang cerdas bin bijak, akan merenung, menggali fakta diri yang nyatanya memang tidak tahu. Kemudian eksplorasi diri di luar pemahaman pengalaman. Menjelajah merasional info baru yang belum pernah diterima.

Walau hanya tiga huruf tapi maknanya bisa puluhan-ratusan juz. Adalah sebagaimana tersirat pada ayat : laa yamassuhu illal-muthahharun. Tidak akan dapat menyentuh kedalaman makna al Quran kecuali orang yang disucikan Tuhan sendiri.

Oleh karenanya, di hadapan al Muthohharun, ayat-ayat qauliyah (yang tertulis) maupun ayat-ayat kauniyah (jagad raya seisinya) digelar dibahas tuntas. Baik yang muhkamat maupun mutasyabihat.

Sejarah mencatat, dalam rangka menyimboli keberadaan al Muthohharun yang demikian membumi-melangit, para leluhur mewasiat, kalau ngaji jangan hanya kitab garing, tapi juga ngaji kitab teles. (ronijamal.com/kitab-teles-vs-kitab-garing/)

Kemudian siapa al Muthohharun itu?
Tidak lain adalah aplikasi nyata inni ja’ilun fil ardhi Khalifah. Wakil atau Khalifah Tuhan yang mengada di muka bumi. Wakil yang dimulai dari Adam, diupdate Idris, Nuh, Hud, …dst, hingga kiyamat. Wakil yang sekaligus merupakan fakta nyata rahmatan lil-ngalamin, rahmat untuk seluruh alam. (ronijamal.com/dimana-rahmatan-nya/)

Kemudian simpulnya, membebaskan diri dari tersinggung mesti diawali merenung mendalam. Menalar merasional informasi baru yang belum pernah masuk dalam memori pikiran maupun memori hati. Selanjutnya akal nalar mengolah memasak mempertimbang menyimpulkan memutuskan mengadili, sebagaimana fungsi dan kedudukannya yang al Mizan.

____180525–belajar istikomah, olah nalar oleh roh olah rasa dalam nderek Guru (Romo Kyai Tanjung).
.

About the author

Seorang Dosen Di STT POMOSDA, Guru Matematika SMA POMOSDA (1995 – sekarang), dan Guru "Thinking Skill" SMP POMOSDA yang mempunyai hobi Belajar-Mengajar Berpikir, Mencerahkan Pemikiran

Comments

Leave a Reply

Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.