TERGELITIK FATWA : MATI YANG BAIK?
Posted By Roni Djamaloeddin on September 18, 2025
Banyak persepsi perihal mati yang baik.
Ada yang beranggapan bila mati yang baik itu jasadnya masih utuh walau puluhan ratusan tahun telah dikubur. Bahkan morinya pun masih utuh dan harum wangi.
Persepsi lain, ada yang beranggapan saat leess meninggal, wajahnya tersenyum. Menampak makin cantik/tampan. Seolah mengabari ahli waris/kerabatnya, bila ia telah mencicipi bahagia abadi di surga.
Ada pula persepsi lain, mati yang baik adalah mati disaat sujud. Alasannya, saat sujud adalah saat paling dekat dengan Tuhan. Sehingga banyak yang memimpikan bisa mati di saat sujud/sholat ini.
Ada pula persepsi lainnya, mati yang baik adalah saat melaksanakan haji di tanah suci. Bahkan mati disini disebut mati istimewa. Disamping biayanya sangat besar, berada di tanah suci, dan tidak semua muslim kuasa menjalaninya.
Banyaknya persepsi dan peyakinan perihal mati yang baik, endingnya pun dibawa peyakinnya sampai mati. Seolah tidak pernah menyentuh atau bahkan kejadian saling bebas dari perintah muutu qabla antamutu. Sehingga tak terhubung sama sekali dengan ilmu mati, terlebih belajar menyelaminya. (ronijamal.com/seri-soal-solusi-mati-sebelum-mati/)
Sementara fakta pengalaman perihal ilmu mati, yaitu agar bisa menikmati mati yang baik, atau istilah shahihnya belajar meniti ilaihi rojiuna, yang didapat dari khalifah/wakil Tuhan yang mengajarkan ilmunya mati, mati yang baik (rojiuna) mencakup empat hal sekaligus : jasad bosok (hancur), hati ngadam, roh sirna, rasa menyatu dengan Dzat/Cahaya Tuhan.
Jasad bosok (hancur).
Jasad yang asalnya dari tanah, mesti kembali ke tanah. Bila ternyata tidak bisa menyatu lagi dengan tanah, artinya tanah tidak bisa menerima kedatangan jasad, menandakan ada sesuatu yang menyebabkan jasad tertolak oleh bumi.
Sedang faktanya menyatakan hidup di bumi, makan minum di bumi, mencari rezeki di bumi, buang kotoran di bumi, beranak pinak di bumi. Nah…saat mati, kok bumi menolak?
Maka analisanya, bisa dimungkinkan disebabkan punya ilmu anti hancur, ada ilmu susuk dalam jasadnya, atau mungkin banyak kemungkinan penyebab lainnya.
Hati ngadam. Ngadam artinya tidak ada. Dalam hati tidak ada lagi yang diingat-ingat selain isinya dzikir (ilmu dzikir). Ingatan akon-akon harta, kedudukan, keluarga, anak istri yang disayangi, sudah tidak ada. Kesemuanya telah nafi, telah dinafikan dengan mengitsbatkan (memaqamkan hati) mengingat Dzat Yang Maha Wujud.
Roh sirna. Sirna (disirnakan) ke alamnya Tuhan. Asalnya roh (daya kuat) dari Tuhan, maka sirna (disirnakan) dikembalikan pada Pemiliknya (Tuhan). Tenggelam dalam lautan makna laahaula walaa quwwata.
Rasa (Sirr, fitrah manusia) pulang menyatu lagi dg Dzat Yang Maha Fitrah. Ilaa Rabbiha Nadziroh. Fitrah manusia asalnya dari Tuhan, menyatu lagi dengan-NYA. Ibarat setetes air terdampar di daratan, pulang menyatu lagi dengan samudra luas. (ronijamal.com/mati-slamet/)
Begitulah yang dikatakan mati yang baik, dari sudut pengalaman belajar ilmu mati slamet. Ilmu tersebut dalam Qurannya disebut Ilmu Dzikir. Diperintahkan fas-alu ahladzdzikri inkuntum laata’lamuna (QS.21:7). Bertanyalah (bergurulah) pada ahli dzikir, bila tidak tahu apa bagaimana ilmu dzikir itu.
Kemudian bagaimana menyikapi perbedaan persepsi mati yang baik, dari ribuan persepsi yang telah ada?
Jalan tengahnya telah Tuhan tunjukkan dengan jelas dan nyata : lakum dinukum waliyadin. (ronijamal.com/lakum-dinukum/)
Yang pada akhirnya dibutuhkan kecerdasan mengaplikasi kalimat fastabikhul khairat (berlomba-lombalah dalam hal kebaikan) dalam sebuah implikasi praktis fastabikhul muutu qabla.
____140925–belajar istikomah nderek Guru (Romo Kyai Tanjung)
.


Comments
Leave a Reply
Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.