LALAI DALAM SHOLAT?
Posted By Roni Djamaloeddin on October 16, 2025
Ringkasan AI menyatakan lalai dalam sholat berarti orang yang tetap melaksanakan sholat tetapi tidak khusyuk, menunda-nunda waktunya, atau tidak memenuhi rukun dan syaratnya. Orang lalai juga tidak merenungkan bacaan, terburu-buru, dan memikirkan hal-hal duniawi saat sholat, yang berlawanan dengan tujuan sholat sebagai sarana komunikasi dengan Allah SWT.
Sedang tafsir kemenag menyatakan, orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, di antaranya dengan tidak memenuhi ketentuannya, mengerjakan di luar waktunya, bermalas-malasan, dan lalai akan tujuan pelaksanaannya.
Pendapat pemikiran lain, baik tokoh ulama, maupun organisasi keagamaan, sangat banyak ragamnya. Termasuk laman keagamaan, baik yang mengatasnamakan aliran, maupun yang personal, juga sangat banyak ragam definisinya.
Sedang internalisasi dari pengalaman berguru kami, lalai dalam sholat adalah ketika sholat tidak ada dzikir didalamnya. Sebab ashsholatu lidzikrii. Sholat itu untuk mengingat AKU (Wujud Cahaya Tuhan). (ronijamal.com/jangan-sembah-nama/)
Dzikir itu sendiri apa bagaimana, dalam al Anbiya 7 diperintahkan untuk bertanya (berguru) pada ahlinya (ahli dzikir). Sehingga tanpa berguru pada ahli dzikir, mustahil tahu pasti dengan sendirinya. (ronijamal.com/dzikir-tertinggi/)
Faktanya juga demikian, tidak/belum berguru pada ahli dzikir, merasa sudah tahu dan paham apa itu dzikir. Terjebak dalam nafsu duga prasangka kira-kira. Bahkan anut grubyuk (mengikut tanpa rasionalitas) definisi atau pemahaman yang sudah ada. Semacam : dzikir itu mengingat asmaul husna, dzikir itu membaca kalimat tauhid, …dst-dsb.
Ahli dzikir sendiri adalah hamba pilihan-Nya yang maqam di dzikir. Siang malam tidak lepas dari dzikir. Hingga tidur pun dalam dzikir. Sebagaimana hadits : tidurlah mataku, jangan tidur hatiku.
Permisalan sederhananya seperti ahli kubur. Orang yang maqam (berada) di dalam kubur. Tidak pernah lepas/keluar dari kubur. Andai lepas/keluar dari kubur walau hanya 1 detik, namanya bukan lagi ahli kubur. Tapi berubah istilah menjadi demit setan hantu dlsb.
Karenanya, ahli dzikir itu adalah Nabi Saw sendiri. Beliau sangat menyadari sebagai manusia normal yang pasti mati, maka jauh tahun sebelumnya mendidik mengkader secara sempurna pelanjut tugas fungsi kerasulan. Tersurat dalam hadits, ‘alaikum bisunnatii, aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, …dst-dsb. (ronijamal.com/bisunnatii/), (ronijamal.com/terbit-bintang-sampai-kiamat/)
Praktik bertanya (berguru) ilmu dzikir pada ahlinya, adalah dengan yubayi’unaka, melakukan baiat pada pelanjut tugas fungsi kerasulan (al Fath 10). Dimana pada zaman Nabi Isa, baiat disebut dengan babtis. (ronijamal.com/rasionalisme-baiat/)
Selanjutnya, setelah punya ilmu dzikir, maka nafas yang masuk dan keluar, selalu diisi (bersamaan) dengan dzikir. Segala aktifitas berdunia dibarengi hati ingat ilmu (isinya) dzikir. Maka sholat ada’ dan sholat daim dengan sendirinya terjaga dalam dzikir. (ronijamal.com/apa-itu-sholat-daim/)
Bila dalam sholat sudah ada dzikirnya, maka dengan sendirinya belajar khusyuk. (ronijamal.com/sholat-khusyuk/)
Dengan demikian simpulan logisnya, lalai dalam sholat bisa dipahami diyakini dirasakan dengan pasti. Bukan lagi duga kira prasangka seperti ketika belum bertanya (berguru) pada ahli dzikir.
___131025–belajar istikomah tumakninah nderek Guru (Romo Kyai Tanjung)


Comments
Leave a Reply
Ket: Komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di blog ini.