Roni Djamaloeddin | April 7, 2020
Untuk apa manusia diciptakan dan kemudian dimusnahkan ? Setelah hidup menderita didunia. =============================== Untuk apa manusia diciptakan? Kalau diperluas, untuk apa malaikat manusia jin setan planet matahari dan makhluk semuanya diciptakan? Jawab simpelnya : suka-suka Tuhan.
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
Bangsa ini selamanya akan “terjajah” bila manusia-manusia penghuninya masih terjajah. Yaa…., terjajah dimaksud adalah terjajah oleh penjajah mahalicik mahadahsyat yang berada di dalam jiwanya sendiri. Terjajah oleh watak ego emo iri dengki srei dan saumbruk nafsu jahat lainnya. Salah satu contoh sederhana adalah mewabahnya sarkasme kecebong kampret yang makin liar. Yang labil jiwanya rohnya, akan […]
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
Teringat cerita perihal seorang ayah dalam memilihkan pendidikan anaknya. Sekedar berbagi, barangkali bisa dijadikan referensi ataupun menjadi pikukuh dalam membekali pendidikan anak-anak. Kala itu, si anak telah menamatkan sekolah menengah pertamanya si pesantren. Kemudian si anak berkemauan melanjutkan di sekolah umum, di luar pesantren. Yaitu Sekolah Teknik Mesin (STM).
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
Diskusi itu mencoba mengurai dan mencerahkan : Adanya berbagai macam aliran dan berbagai jenisnya, karena ada yang berani mendirikan. Bahkan hingga berbagai macam agama, karena ada yang “memulai”.
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
Di atas langit masih ada langit. Mutiara hikmah ini benar-benar realibel dalam keseharian. Buktinya, ketika kita jumpai sosok yang benar-benar “super” (bagaikan di langit), maka pada kesempatan lain “pasti” kita jumpai sosok yang lebih super lagi. Baik wawasan, kharisma, kecerdasan, kepenulisan, kehafidan, speed thinking, logika anilisis, atau apapun namanya. Namun kenyataannya, mutiara luar biasa itu […]
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
Biarlah mereka memaknai sunnah rosul itu dg memelihara jenggot panjang dan jubahnya yg landung. (Mungkin) memang demikianlah Sang Rosul waktu itu. Ndak usah gumun ndak usah piye-piye padanya. Biarlah mereka memahami sunnah rosul dg making love setiap malam Jumat. Memang haditsnya demikian. Silakan diamalkan. Namun kiranya lebih mulia bila malam itu diisi dg sunnah rosul […]
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
Jaman kewaliyan dulu, toponya (bertapanya) memang ngalas. Bertapa ditengah hutan gung liwang liwung dalam rangka membeningkan hati musning maring Gusti. Juga dalam rangka mengeluarkan segala kadonyan dari hatinurani roh hingga rasa, agar kelet dg Wujud Yang Maha Sampurno. Namun jaman sekarang, istilah sufinya jaman kemahdian, bertapanya tidak di hutan lagi. Tapi ditengah-tengah praja, di tengah-tengah […]
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
“Wa’bud Robbaka hatta ya’tiyakal Yaqin” (QS.15:99). Beribadahlah pada Tuhan mu sampai yaqin itu datang kepada mu. “Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu.”(Manava Dharma Sastra III.97)
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
Disela-sela mengajar matematika, memang saya selingi dengan “breaking news”. Temanya bisa berupa berita terupdate, kisah nyata dari alam ghaib, pertanyaan para siswa yg tertulis dalam “kitab kelas”, juga pengalaman langsung saya dan mereka. Trenyuh rasanya membaca pertanyaannya, kenapa saya lahir. Mbrebes mili, nangis nelongso rasanya. Kenapa saya dulu wani-wanine (sok jagoan beraninya) menantang menerima amanah-Nya. […]
Category: Artikel |
No Comments »
Tags:
Roni Djamaloeddin | April 3, 2020
Belajar lebur itu tdk menuntut haknya harus terpenuhi, seperti halnya mereka yg kadonyan. Walaupun secara manusiawi juga “mengurus” seperti lumrahnya. Belajar lebur itu menghancurkan pengakuan keakuan kerumangsanan. Belajar lebur itu meningkatkan status dari kewajiban jadi kebutuhan. Dari kebutuhan jadi kebiasaan keseharian. Dari kebiasaan keseharian, selanjutnya ditiadakan dinafikan.
Category: Artikel |
No Comments »
Tags: