HIDUP DAN NASIB

Posted By on February 26, 2012

Hidup dan nasib, terkadang tampak mulus, berantakan, misterius, fantastis maupun sporadis. Namun, setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan. (anonim)

Implementasi praktisnya…

Kalah menang dalam suatu permainan (pingpong) adalah micro subsistem dari sebuah nasib. Karena itu, ia harus bisa diterima dengan ikhlas dan lapang dada….tanpa penyesalan, penyusahan, dan/ataupun pembanggaan.

Salam berlatih KERAS..! (ronijamal.com)

TEOREMA UJIAN

Posted By on February 17, 2012

……
Teorema Ujian Mutlak di atas ternyata terdiferensiasi pada kehidupan umumnya. Ada teorema uji kepangkatan, yaitu ujian bagi pegawai yang akan memasuki jenjang kenaikan pangkat yang lebih tinggi. Demikian pula pada siswa/pelajar yang sedang menuntut ilmu, pada masing-masing tahapan ada ujiannya.
……

BAYARLAH UPAH…

Posted By on January 3, 2012

Bayarlah upah pekerja (pembantu)mu sebelum kering keringatnya (Al Hadits)

Baca Selengkapnya »

MENJADI IKAN

Posted By on November 30, 2011

Ada hal yang cukup menarik pada acara talk show motivasi tayangan Metrotv beberapa hari lalu. Selain materi yang cukup menarik, audiennya pun sangat “khusyuk” mendengar. Terlebih nara sumbernya yang motivator kelas nasional.

Catatan menariknya adalah pada bahasan “ikan”. Sang motivator pun menyampaikan poling untuk dipilih audien. Pertanyaannya, pilih mana menjadi ikan besar di kolam kecil atau menjadi ikan kecil di kolam besar.

Sambil menunggu hasil poling, motivator mewawancarai beberapa peserta. Jawaban peserta pun cukup beragam, yang tentunya didasari dengan argumen, pengalaman, dan keyakinan masing-masing.
Baca Selengkapnya »

MENYELAMI MAKNA SYAWAL

Posted By on September 12, 2011

Syawal adalah bulan pasca ramadhan. Hari pertamanya ditandai dengan genderang Idul Fitri. Sesuatu hari dimana anak Adam menyatakan (dinyatakan) kembali kepada fitrah.

Syawal identik dengan halal bihalal. Saling membersihkan dan saling memaafkan dosa kesalahan sesama sanak saudara maupun teman dekat. Ia identik pula dengan reuni-reuni, baik reuni keluarga, reuni teman sekolah, maupun reuni-reuni lainnya.

Secara harfiah, Syawal maknanya adalah peningkatan. Adalah salah satu bulan yang menuntut pelaluinya meningkatkan kualitas kehidupannya. Meningkat kualitas ibadahnya, meningkat kualitas belajar dan bekerjanya, maupun meningkat kualitas kebaikan lainnya.
Baca Selengkapnya »

IT DAN PUASA

Posted By on August 4, 2011

Secara logis, IT (Information Technology) dan puasa adalah dua hal yang berbeda jauh. Keduanya tampak tidak ada hubungan sama sekali. IT adalah salah satu karya hebat manusia, yang sangat membantu kebutuhan, pekerjaan, dan meningkatkan peradaban manusia, sedang puasa adalah perintah Tuhan yang sama sekali tidak dapat dihindari.

Perintah tersebut adalah sebagaimana tersurat dalam QS. Al Baqarah 183: Yaa ayyuhal ladziina amanu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ’alalladziina min qoblikum la’allakum tattaquna. Artinya : hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.

Baca Selengkapnya »

TUHAN BERGANTUNG PADA RASUL?

Posted By on May 24, 2011

Tuhan bergantung pada Rasul? Nampaknya sangat ironis. Ironisnya, Dia Yang Maha Segalanya, ternyata perlu Rasul (Khalifah, Utusan) hanya untuk “mulang wuruk” (membelajari) manusia–agar bisa pulang kembali pada asal-Nya. Padahal, ketika menciptakan jagad raya seisinya (termasuk menciptakan semua manusia), mengatur jutaan planet lengkap dengan peredarannya, sama sekali tidak memerlukan bantuan makhluk-Nya.

Tetapi, begitulah kenyataannya. Dibalik ke-Mahakuasa-Nya, ternyata memang “perlu” makhluk-Nya (semisal para Malaikat) mengerjakan tugas-tugas tertentu. Jibril, menyampaikan wahyu kepada manusia. Mikail, bertugas membagi rezki, dan seterusnya dan sebagainya. Padahal kalau Dia berkehendak, tanpa harus melibatkan makhluk-Nya, dapat mencukupi sendiri apa yang Dia kehendaki.

Baca Selengkapnya »

IMAN RETORIKA, IMAN REALITA

Posted By on April 22, 2011

Iman, secara bahasa maknanya percaya. Yaitu percaya atas mengadanya suatu benda/zat, peristiwa, maupun adanya kekuatan tertentu di luar diri. Tumbuhnya rasa percaya ini disebabkan oleh 3 (tiga) hal. Karena berita (baik tulis maupun lisan), teori keilmuan, maupun pengalaman yang dialami/disaksikan secara langsung. Implikasi logis adanya iman ini, berpengaruh kuat terhadap sistem keyakinan (spiritual) seseorang.

Sayangnya, istilah iman (percaya) ini umumnya hanya dikaitkan dengan keberadaan Tuhan, malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan takdir—yang kemudian disebut rukun iman. Padahal mestinya (secara bahasa), ia dapat pula tertuju/mengarah kepada hal-hal lain. Misalnya iman pada isu, iman pada kekuatan japa mantra, percaya pada ramalan-ramalan, percaya pada suara/kekuatan gaib, percaya pada mimpi-mimpi dan lain sebagainya. Tapi nyatanya istilah (iman) ini terlanjur di-“booking” oleh Islam menjadi rukunnya (rukun iman).

Baca Selengkapnya »

MERAIH HIDUP BERMAKNA

Posted By on April 16, 2011

Hampir bisa dipastikan, cita-cita dan tujuan hidup seseorang dipengaruhi oleh orang tuanya. Orang-orang terdekat yang setiap hari berinteraksi, ikut pula memengaruhi. Sedang faktor lainnya: sekolah, tempat kerja, buku-buku bacaan, seruan ulama, berbagai macam media, lingkungan, maupun masyarakat luas.

Cita-cita dan tujuan hidup tersebut adalah hidup di dunia enak dan semua keinginan yang dibutuhkan tercukupi. Jauh dari masalah-masalah berat yang melilit kehidupan. Usaha sukses, kaya raya, rumah-mobil-perabotan mewah, harta melimpah yang cukup untuk 7 (tujuh) turunan. Hingga puncaknya, ketika mati nanti masuk surga.

Terlepas benar tidaknya fenomena yang sesungguhnya, yang jelas, sampai detik ini, ia diyakini kebenarannya. Secara alamiah ia telah diwariskan oleh para nenek moyang terdahulu. Seolah menjadi ”pakem” yang harus diwariskan secara turun tumurun.
Baca Selengkapnya »

PUSING UNAS?

Posted By on March 25, 2011

Unas aja kok repot! Mungkin itu jawaban simpel seandainya judul di atas ditanyakan kepada alm. Gus Dur ketika masih hidup. Sebuah solusi yang seakan miskin penalaran, tapi kaya nilai filsafat.

Jawaban “sekenanya” tersebut tentu ada benarnya dan tidak benarnya. Di hadapan alm. Gus Dur mungkin saja benar. Sebab, unas adalah perkara kecil. Perkara dunia yang sejatinya tidak perlu direpotkan. Karenanya tidak perlu diambil pusing apalagi dibikin repot sendiri.

Namun, asumsi tersebut jelas bertolak belakang dengan pandangan khalayak luas. Khususnya siswa, guru, dan orang tua. Mayoritas mereka merasa repot dan was-was dibuatnya. Sehingga repot pula menyikapi dan menyiasatinya.

Masalahnya, mengapa unas bikin pusing semua pihak? Bukankah ia telah menjadi agenda rutin tiap akhir tahun?

Baca Selengkapnya »