MENGAIS SERAKAN HIKMAH RAMADHAN

Posted By on August 28, 2010

Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh barokah dan ampunan Illahi. Didalamnya dibukakan segala pintu rohmat-Nya, kebaikan terkumpul, ketaatan akan diterima, doa-doa dikabulkan dan diampuni, serta surga pun merindukan mereka (al hadits).

Karenanya, teramat sayang tanpa peningkatan kualitas keimanan dan kesungguhan dalam beribadah. Baik ibadah yang mahdhoh maupun yang ghairu mahdhoh; seperti bekerja, belajar, meningkatkan pengetahuan-pemahaman-pengalaman berbagai macam ilmu-Nya, meningkatkan instrospeksi diri atas kekurangan dan kesalahan, dan lain sebagainya.

Tanpa diiringi peningkatan yang signifikan, tentu mengalami rugi besar di kemudian hari. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya: “Seandainya umatku tahu, yakni mengerti, apa yang terkandung dalam bulan ramadhan, maka mereka mengharapkan satu tahun itu menjadi bulan ramadhan semua”.
Baca Selengkapnya »

BIJAK MENGATASI MASALAH

Posted By on July 24, 2010

Masalah, semua orang pasti mengalami. Baik yang skalanya ringan, sedang, maupun yang berat. Yang dimaksud masalah disini biasanya adalah perkara-perkara yang sifatnya tidak menyenangkan (menyusahkan).

Namun ada masalah lain yang sifatnya justru menyenangkan. Ini pun masalah juga. Banyak yang tidak menyadari kalau ia sebenarnya sangat berbahaya. Sama bahayanya dengan masalah yang tidak menyenangkan (menyusahkan).

Konkritnya, bila masalahnya menyusahkan, mayoritas hanyut dalam kesusahannya. Menggerutu, nelangsa, gak trimo, menyalahkan sana sini, mencari kambing hitam, menggumam diri (semisal, salah saya dimana sehingga saya ditimpa musibah seberat ini), dan lain sebagainya.
Baca Selengkapnya »

Ide Brillian

Posted By on May 22, 2010

Ide Brillian adalah ketika berpikir keras menghasilkan sebuah ide, tidak berani ngaku kalau ide yang telah dihasilkan adalah idenya, walaupun nyatanya sangat bermanfaat atau bahkan tak berguna sama sekali. (ronijamal.com)

MENCERDASKAN HATI NURANI

Posted By on May 19, 2010

Agar hati tenang dan hidup tenteram, banyak-banyaklah berdzikir disertai sabar dan syukur”. Demikian salah satu nasehat AA Gym dalam bukunya “Meraih bening hati dengan manajemen qolbu”. Sebuah model nasehat yang belakangan populer dengan istilah “Manajemen Qolbu”.

Model nasehat tersebut dapat dianggap sebagai cikal bakal “pendidikan hati nurani”. Alasannya, ia merupakan trobosan pemikiran baru yang cukup brilian. Sekaligus sebagai sebuah strategi untuk meraih hati yang bening. Disamping karena “langka”-nya pemikir maupun penulis yang membahas tentangnya.

Namun demikian, kiranya, sistematikanya perlu “disempurnakan”. Semisal definisi hati yang “bening” itu bagaimana, spesifikasinya, maupun pencerdasannya. Sebab, bila gambaran subyek, obyek kerja maupun targetnya belum dapat diketahui secara pasti, “mustahil” kiranya dapat meraih hati yang bening.
Baca Selengkapnya »

MENGEMBALIKAN HAKEKAT BERGURU

Posted By on May 7, 2010

Secara filosofis, guru berasal dari kata digugu dan ditiru. Refleksi dari “sosok luhur” yang dapat digugu semua nasehat penjelasan perintah maupun larangannya, serta dapat ditiru semua tingkah laku perbuatannya. Singkatnya, guru adalah seseorang yang dapat dijadikan panutan dan teladan atas segala perkataan dan perbuatannya.

Filosofi yang sangat luhur ini nampaknya jauh beda dengan kenyataan sekarang. “Roh”-nya guru (sebagai panutan dan teladan) banyak yang bergeser dari tempatnya. Tidak sedikit guru yang terbias dari watak guru yang semestinya. Bahkan (mungkin) pangling dengan jati diri (profesi)-nya sendiri.

Sayangnya, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tidak membahas filosofi ini. Dijelaskan dalam pasal 1 ayat 1 bahwa “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Jelas sekali bila definisi ini perlu “disempurnakan”..
Baca Selengkapnya »

Siliring Qudrat atau Siliring Nafsu

Posted By on April 30, 2010

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang berkata (Imam Ali)

Sebelum melangkah ataupun mengambil kebijakan dari sebuah perkataan, dari mana pun asalnya, cermati dengan arif dan bijak apakah ia siliring qudrat atau siliring nafsu (ronijamal.com)

BIJAK MENYIKAPI (HASIL) UNAS

Posted By on April 24, 2010

Momok menakutkan yang namanya unas itu telah berlalu. Namun hawa angker dan seramnya masih menakutkan. Menyusul tinggal hitungan hari momen sakral itu diumumkan. Penentu siswa penempuh unas dinyatakan lulus atau tidak.

Rasa hati berdebar dan cemas tak karuan menyelimuti masa penantiannya. Sembari menunggu, berbagai ikhtiar dan doa tentu telah dilakukan demi satu-satunya harapan: lulus.

Lebih dari itu, lulus ataupun tidak dari sebuah unas adalah wajar. Ia merupakan konsekuensi sekaligus implikasi. Bila persiapan dan pengerjaannya sangat baik, tentu lulus ganjarannya. Tetapi bila sebaliknya, persiapan dan pengerjaannya tidak baik, tidak luluslah konsekuensinya.
Baca Selengkapnya »

Telaah Lanjutan dari Presentasi Harun Yahya

Posted By on April 18, 2010

MENYELAMI  MAKNA  KEABADIAN

KEABADIAN, menurut Harun Yahya –seorang penulis terkemuka di Turki– diasosiasikan oleh manusia umumnya seperti gambaran ribuan tahun, jutaan atau miliaran tahun.

Sebuah konsep waktu yang seakan-akan mengarah kepada jangka waktu selama-lamanya. Sebuah konsep yang tidak berawal dan tidak berujung. Relevan dengan makna abadi itu sendiri, yang dalam kamus bahasa Indonesia artinya kekal, tetap selama-lamanya.

Akan tetapi, dalam pandangan Tuhan Yang Mahakuasa, konsep “selama-lamanya” dan mutlak tak dapat terhitung ini telah berakhir. Keabadian, yang tampak sebagai sebuah konsep yang tak dapat dicapai oleh kita, hanyalah sebuah waktu yang sangat singkat dalam pandangan Allah. “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung”. (Q.S. Al-Hajj [22]: 47).
Baca Selengkapnya »

SUKSES SEJATI

Posted By on April 11, 2010

Sukses, memang hak—bahkan impian—setiap orang. Ia “hanya” dapat dijangkau oleh mereka yang sehat pikirannya. Sehat dalam arti sanggup memimpikan, merencanakan matang-matang aksinya, dan merealisasikannya dalam tindakan nyata. Di lain itu, yang tidak sehat pikirannya atau yang terkungkung oleh angan kosong tanpa upaya nyata, tak layak mendapatkannya.

Pencapaiannya pun tak semudah memimpikannya. Sebab, untuk mencapainya perlu perjuangan dan pengorbanan yang teramat berat. Energi yang diperlukan pun juga cukup besar. Apalagi niat dan tekad sebagai fondamennya, harus benar-benar membaja. Karena tanpa ada harmoni keduanya (niat dan tekad), segala pendukungnya menjadi sia-sia.
Baca Selengkapnya »

MEMBUMIKAN BELAJAR

Posted By on April 9, 2010

Belajar, umumnya diasumsikan menjadi garapan para pelajar. Selain pelajar, seolah “tidak wajib” lagi untuk menggarapnya. Karenanya, komunitas non pelajar ini, kecil pedulinya terhadap belajar. Termasuk sebagian guru yang hanya mau belajar bila berhubungan dengan tugas di sekolah.

Implikasi logisnya, ketika tidak berada di bangku sekolah lagi, hampir pasti belajar tidak lagi dilakukan. Lebih memprihatinkan lagi, akhir-akhir ini belajar disamakan dengan serangkaian pelajaran di sekolah. Belajar identik dengan buku atau media pengajaran. Di luar media tersebut, tidak ada materi penting untuk dipelajari. Sehingga, kelulusan seolah identik dengan “tamat belajar”.

Belajar dalam pengertian luas (sejati), tidak ada lagi sekat-sekat yang membatasi. Tidak ada batasan ruang, waktu, substansi, apalagi media.

Baca Selengkapnya »