MENCERDASKAN HATI NURANI

Posted By on May 19, 2010

Agar hati tenang dan hidup tenteram, banyak-banyaklah berdzikir disertai sabar dan syukur”. Demikian salah satu nasehat AA Gym dalam bukunya “Meraih bening hati dengan manajemen qolbu”. Sebuah model nasehat yang belakangan populer dengan istilah “Manajemen Qolbu”.

Model nasehat tersebut dapat dianggap sebagai cikal bakal “pendidikan hati nurani”. Alasannya, ia merupakan trobosan pemikiran baru yang cukup brilian. Sekaligus sebagai sebuah strategi untuk meraih hati yang bening. Disamping karena “langka”-nya pemikir maupun penulis yang membahas tentangnya.

Namun demikian, kiranya, sistematikanya perlu “disempurnakan”. Semisal definisi hati yang “bening” itu bagaimana, spesifikasinya, maupun pencerdasannya. Sebab, bila gambaran subyek, obyek kerja maupun targetnya belum dapat diketahui secara pasti, “mustahil” kiranya dapat meraih hati yang bening.
Baca Selengkapnya »

MENGEMBALIKAN HAKEKAT BERGURU

Posted By on May 7, 2010

Secara filosofis, guru berasal dari kata digugu dan ditiru. Refleksi dari “sosok luhur” yang dapat digugu semua nasehat penjelasan perintah maupun larangannya, serta dapat ditiru semua tingkah laku perbuatannya. Singkatnya, guru adalah seseorang yang dapat dijadikan panutan dan teladan atas segala perkataan dan perbuatannya.

Filosofi yang sangat luhur ini nampaknya jauh beda dengan kenyataan sekarang. “Roh”-nya guru (sebagai panutan dan teladan) banyak yang bergeser dari tempatnya. Tidak sedikit guru yang terbias dari watak guru yang semestinya. Bahkan (mungkin) pangling dengan jati diri (profesi)-nya sendiri.

Sayangnya, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tidak membahas filosofi ini. Dijelaskan dalam pasal 1 ayat 1 bahwa “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Jelas sekali bila definisi ini perlu “disempurnakan”..
Baca Selengkapnya »

Siliring Qudrat atau Siliring Nafsu

Posted By on April 30, 2010

Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang berkata (Imam Ali)

Sebelum melangkah ataupun mengambil kebijakan dari sebuah perkataan, dari mana pun asalnya, cermati dengan arif dan bijak apakah ia siliring qudrat atau siliring nafsu (ronijamal.com)

BIJAK MENYIKAPI (HASIL) UNAS

Posted By on April 24, 2010

Momok menakutkan yang namanya unas itu telah berlalu. Namun hawa angker dan seramnya masih menakutkan. Menyusul tinggal hitungan hari momen sakral itu diumumkan. Penentu siswa penempuh unas dinyatakan lulus atau tidak.

Rasa hati berdebar dan cemas tak karuan menyelimuti masa penantiannya. Sembari menunggu, berbagai ikhtiar dan doa tentu telah dilakukan demi satu-satunya harapan: lulus.

Lebih dari itu, lulus ataupun tidak dari sebuah unas adalah wajar. Ia merupakan konsekuensi sekaligus implikasi. Bila persiapan dan pengerjaannya sangat baik, tentu lulus ganjarannya. Tetapi bila sebaliknya, persiapan dan pengerjaannya tidak baik, tidak luluslah konsekuensinya.
Baca Selengkapnya »

Telaah Lanjutan dari Presentasi Harun Yahya

Posted By on April 18, 2010

MENYELAMI  MAKNA  KEABADIAN

KEABADIAN, menurut Harun Yahya –seorang penulis terkemuka di Turki– diasosiasikan oleh manusia umumnya seperti gambaran ribuan tahun, jutaan atau miliaran tahun.

Sebuah konsep waktu yang seakan-akan mengarah kepada jangka waktu selama-lamanya. Sebuah konsep yang tidak berawal dan tidak berujung. Relevan dengan makna abadi itu sendiri, yang dalam kamus bahasa Indonesia artinya kekal, tetap selama-lamanya.

Akan tetapi, dalam pandangan Tuhan Yang Mahakuasa, konsep “selama-lamanya” dan mutlak tak dapat terhitung ini telah berakhir. Keabadian, yang tampak sebagai sebuah konsep yang tak dapat dicapai oleh kita, hanyalah sebuah waktu yang sangat singkat dalam pandangan Allah. “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung”. (Q.S. Al-Hajj [22]: 47).
Baca Selengkapnya »