Posted By Roni Djamaloeddin on April 5, 2010
Adalah perkara yang sangat dinanti
Sang pujaan hati di hadapan diri
Kabar balasan yang slalu dimimpi
Yang bersurat tunggu jawaban pasti
Adalah perkara yang sangat dinanti
Sang pujaan hati di hadapan diri
Kekasih pujaan datang tepati janji
Dua insan yang jatuh hati
Baca Selengkapnya »
Kategori: Puisi |
2 Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on April 2, 2010
Hati sanubari
Nama lainnya qalbun jasmaniyun dzulmaniyun
Dibuat dari secuil daging sebesar daun semanggi dibelah dua
Letaknya dibawah susu kiri kira-kira dua jari
Menempel pada tulang rusuk terakhir
Karena terbuat dari daging, maka :
Yang dikembang suburkan adalah peradaban daging
Memenuhi nafsu bangsa hewan yang tidak pernah puas
Memburu nikmatnya makan dan nikmatnya sahwat
Baca Selengkapnya »
Kategori: Puisi |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 31, 2010
Sisi yang Tertinggi dari Buku “Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-renungan Sufistik”, Karya Jalaluddin Rakhmat
SETELAH mencermati buku Kang Jalal, Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-renungan Sufistik, menurut saya buku tersebut hanya menyajikan satu wacana kegaiban, yaitu kegaiban yang berhubungan dengan Zat Tuhan-beserta segenap “tata-cara” membuka tirainya. Sementara kenyataannya, ada dunia gaib lain yang “seharusnya” dimengerti dan dipahami. Di mana, kebanyakan orang tertipu dan terjebak olehnya, yang seharusnya dinafikan (ditiadakan, bukan disenangi dan bukan pula dijadikan tujuan hidup).
Dalam kamus bahasa Indonesia alam gaib artinya dunia gaib yang tidak kelihatan yang berada di luar jangkauan manusia. Alam ini substansi fisiknya tidak/belum dapat ditangkap oleh akal manusia. Bahkan, hingga saat ini belum ada pengetahuan maupun alat canggih yang dapat mendeteksi/merekam keberadaannya secara pasti.
Baca Selengkapnya »
Kategori: Kliping |
1 Comment »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 27, 2010
Nampaknya tak pernah disadari—apalagi ditafakuri secara mendalam—bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ada sebuah kebiasaan yang “sebenarnya” tidak baik, tetapi justru (seolah-olah) dijadikan sebuah budaya yang “layak” dilestarikan. Bahkan, ia sebenarnya dilarang oleh syareat Islam. Kebiasaan tersebut adalah “kecenderungan melihat lebih dahulu siapa yang bicara, dari pada melihat isi pembicaraannya”.
Yang memprihatinkan, kebiasaan ini dilakukan oleh hampir semua lapisan masyarakat. Apakah golongan mereka yang berpendidikan ataukah tidak. Lapisan intelek cendekia maupun yang etos pikirnya biasa/rendah. Singkatnya, mayoritas masyarakat terjangkit virus “penyakit persepsi”.
Baca Selengkapnya »
Kategori: Artikel |
9 Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 21, 2010
Hati nurani
Nama lainnya qalbun nuraniyun lathifun rabbaniyyun
Tempatnya ditengah-tengah dada
Lembut, tidak bisa dilihat oleh mata kepala
Tandanya deg-deg
Disebut juga hati jantung
Rabbaniyun, bangsa Pengeran
Dibangsakan Pengeran karena bukan Pengeran
Baca Selengkapnya »
Kategori: Puisi |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 21, 2010
Mengajar, yang biasa dilakukan para guru adalah agar siswa yang diajar “bisa” atas materi yang diajar. Syukur mampu menguasai.
Lebih dari itu, idealnya, target mengajar tidak hanya sekedar bisa dan menguasai. Tetapi trampil mengerjakan soal-soal variannya.Trampil pula menyelesaikan masalah-masalah kehidupan terkait materi ajar tertentu.
Sayangnya, rumusan target mengajar yang ideal tersebut belum sepenuhnya dapat terpahami. Masih jauh di angan, apalagi terealisasikan. Terkontaminasi “virus mengajar”. Seperti misalnya, adanya persepsi yang penting mengajar. Bisa atau tidak, menguasai atau malah tidak nyambung itu urusan siswa. Mereka kan anak orang lain, mengapa diambil pusing (atas bisa tidaknya)? Ada pula yang sering memberi tugas disambi ngobyek lain. Dan masih banyak lagi virus mengajar yang lain.
Baca Selengkapnya »
Kategori: Grand Idea, Kliping |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 18, 2010
Berpikir Radikal Tentang Islam
BERPIKIR secara mendalam, menurut Harun Yahya, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai sesuatu yang memberatkan. Karena beratnya, maka pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan filosof.
Sedangkan orang-orang yang tidak mau berpikir secara mendalam, hidupnya dalam kelalaian yang sangat. Tidak menghiraukan tujuan penciptaan dirinya maupun tidak menghiraukan kebenaran ajaran agama.
Penyebabnya, di antaranya karena kelumpuhan mental akibat mengikuti kebanyakan orang, kemalasan mental, adanya anggapan bahwa berpikir secara mendalam tidaklah baik, terlena oleh kehidupan sehari-hari dan melihat segala sesuatu dengan penglihatan biasa (sekadar melihat tanpa perenungan). Oleh karenanya Yahya lalu berkesimpulan, “Wajib atas manusia untuk menghilangkan segala penyebab yang menghalangi mereka dari berpikir”.
Baca Selengkapnya »
Kategori: Kliping |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 12, 2010
Ada pengalaman menarik pada pemilu legislatif 9 April lalu. Ketika antri menunggu panggilan, seorang teman yang selesai mencontreng menghampiri. Kemudian bertanya, “kamu mau pilih partai mana, atau caleg siapa?”
Setelah diskusi yang cukup, singkatnya, banyak persamaan dengan pilihan masing-masing. Tetapi tentang pilihan caleg DPD, ada perbedaan. Si teman menyarankan memilih X saja. Alasannya, beliaunya pernah silaturahmi di “kampus”. Juga tidak berseberangan dengan agama keyakinan, walau kurang mendukung.
Sejenak saya pikir, benar juga alasannya. Namun setelah saya amati nama-nama daftar calon legislatif kelompok tersebut (DPD Jawa Timur) yang terpampang di papan informasi, saran pilihan tersebut saya anggap kurang sreg.
Alasannya, bolehlah beliaunya silaturahim atau ”sowan” di kampus–memang ini tradisi politikus memohon restu. Boleh juga bila tidak berseberangan maupun tidak mendukung dengan aliran keyakinan–karena paham pluralisnya yang cukup mapan. Namun dua alasan tersebut saya anggap tidak cukup kuat untuk mewakili daerah (provinsi).
Baca Selengkapnya »
Kategori: Artikel |
1 Comment »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 8, 2010
Salah satu syukur yang biasanya luput dari panggraitan adalah syukur ilmu. Sebagaimana syukur-syukur yang lain, idealnya, syukur ilmu ini perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Alasannya, bila ditafakuri secara mendalam; tingkat keilmuan, tingkat pendidikan, maupun tingkat pemahaman-penguasaan yang kita rasakan detik ini, adalah murni karena hidayah-Nya. Bukan karena jerih payah, usaha keras, maupun ketlatenan kita dalam belajar. Walaupun pada mulanya memang karena usaha dan kesungguhan kita.
Sebagaimana diberitakan Al Quran, “..dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar..” (QS.8:17). Sehingga analoginya, bukan kita yang bisa atas berbagai ilmu yang telah kita pelajari dan kita tekuni. Bukan pula karena kerja keras kita sehingga bisa mendapat gelar seperti sekarang. Melainkan Tuhan-lah yang membisakan. Tuhan-lah Yang Maha Bisa.
Baca Selengkapnya »
Kategori: Kliping |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 5, 2010
Belajar bijaksana? Yaa, benar. Belajar menjadi orang yang bijaksana. Walau tampaknya asing, ia perlu dibelajari. Menjadi bijaksana itu perlu belajar. Ia tidak mungkin datang tiba-tiba.
Terlebih bila mengkaji dan mencermati QS. An Nahl ayat 125, menjadi jelas bahwa kita perlu belajar bijaksana. Ayat tersebut adalah: serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.
Ayat ini menegaskan perintah menyeru kepada sesama manusia untuk meniti jalan Tuhan dengan penuh hikmah serta melalui pendekatan dan argumentasi yang baik. Tetapi bila seruannya ditolak, dibantah, atau bahkan ditentang dan diperolok, diperintah untuk membantah atau menangkis dengan argumen yang lebih baik dari pada seruan sebelumnya.
Baca Selengkapnya »
Kategori: Artikel |
9 Comments »