MENGAIS HIKMAH DZULHIJJAH

Posted By on November 3, 2012

……….

Jamaah Jumat yang berbahagia

Selain kurban harta benda, semangat Dzulhijjah yang perlu dilatih untuk dikurbankan berikutnya adalah korban non harta. Meliputi korban harga diri, korban pengakuan, dan korban perasaan.

Korban harga diri adalah mengorbankan nilai-nilai diri yang biasanya dipatok pada standar tertentu. Misalnya elit pejabat yang hanya mau bergaul hanya dengan sesama pejabat. Harga diri seperti ini perlu dikorbankan, sehingga mau bergaul dengan kawulo alit. Menyadari bahwa sesama hamba punya kedudukan yang sama dihadapan Tuhan. Tidak terkastakan oleh harta, jabatan, kedudukan, keturunan, warna darah, dan sebagainya. Karenanya perlu menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya. Sebab yang menjadikan beda di sisi Tuhan hanyalah tingkat keimanan dan ketaqwaan masing-masing.

TENTANG OTAK

Posted By on August 23, 2012

Otak adalah jendelanya hati. Bila jendelanya sempit (otaknya cupet), maka cahaya (NYA) yg masuk ke hati jadi sedikit. Hati gelapnya (hati sanubari) yang lebih dominan. Njalari jagadnya pribadi (dada) mudah jibeg, jenuh, frustasi, gelap mata, mudah terbawa emosi, egois, mudah katut siliring nafsu, dst-dsb. Tanpa disadari, setan iblis pun sangat mudah ikut nimbrung di dalam dada.

Baca Selengkapnya »

KUIZ PENCIPTAAN ADAM

Posted By on August 10, 2012

ANDAI Nabi Adam itu tdk diturunkan,
ada apa (yang akan terjadi) dengan kita sekarang?

Baca Selengkapnya »

MEMETIK HIKMAH KEMATIAN

Posted By on August 7, 2012

Mati yang selamat (ilaa Rabbiha nadhiroh) menurut standarnya Tuhan (dicontohkan pada/melalui Rasulullah) adalah :
Jasad bosok, hati ngadam, roh sirno, rasa kembali pada Dzat Yang Maha Kuasa
 
Yaa Rabb, mohon bimbing dan jadikan aku pinter/cerdas mati,
sebagaimana matinya para kekasih dan utusan-Mu.
Mohon ambahkan aku dalam kalimat: mutu qabla anta muutu (mati sak njeroning ngaurip), di dalam menjalani dunia ujian-Mu.
 
Yaa Rabb, mohon Engkau kabulkan doaku. Ammiiin.

OPEN MIND

Posted By on August 3, 2012

Tidak ada jalan menuju Roma.

Maksudnya, kalau “beribu jalan menuju Roma” itu kan bagi yang waras akalnya, tur gak wuto sisan… Lha kalo kita mau membuka pikiran, dengan mencoba masuk ke alamnya orang yang tidak sehat akalnya, juga orang yg buta matanya, tentu mereka akan mengatakan “tidak ada jalan menuju Roma”. Mungkin malah mengatakan “Roma itu apa?”