TIDUR YANG MULIA

Posted By on April 28, 2015

Tidur yg paling mulia adalah ketika mata tertidur, hati tidak tidur. Itbak Nabi/Rasul dalam mensupport diri : tidurlah mataku, tapi jangan tidur hatiku.
Tapi apa yaa mungkin? Bagaimana caranya? Dimana nilai logisnya? Serta puluhan pertanyaan lain bermunculan ketika merenungi sabda Nabi Saw di atas.

Hati yg tidak tidur adalah hati nurani (bukan hati sanubari) yg telah berfungsi sebagaimana tupoksinya. Berfungsi karena padanya telah diberi ilmu—disekolahkan/digurukan. Ilmu Dzikir namanya. Kemudian dilatih dibelajari dikonsentrasi sesuai “juklak juknis” ilmu tsb, sebagaimana petunjuk pemberi ilmu.
Analogi sederhananya adalah tentang otak. Otak ini jelas tidak akan mampu berpikir untuk membuat “bom atom”, bilamana kepadanya tidak belum atau diberi ilmu nuklir—disekolahkan/digurukan. Sekalipun setiap harinya telah trampil membuat/memproduksi “kacang atom”.
Baca Selengkapnya »

DIMANA POTENSI LOGISNYA ?

Posted By on April 14, 2015

Dua ayat yang menampakkan potensi berlawanan, adalah QS. Ali Imran : 19 dan QS. Al Baqarah : 62).
1. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS Ali Imran 19).
2. “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al Baqarah: 62).

Dua ayat tersebut sekilas menampakkan berlawanan. Itu karena memaknainya secara sempit. Semisal “ad-din”, yang kebanyakan tafsir memaknainya dengan agama. Dalam kamus bahasa Arab (yang pernah saya dengar), “ad-din” itu maknanya al-khudu’ al-mutlak. Pasrah bongkokan (tunduk) secara mutlak. Sehingga bila dimaknai dengan kalimat ini, makna lengkapnya menjadi: “barang siapa yang pasrah bongkokan (tunduk secara mutlak) disisi/dihadapan Tuhan, yaitulah yang akan diselamatkan–oleh Tuhan sendiri”. Diselamatkan dunianya, juga diselamatkan akheratnya. Sehingga ada keserasian bila dikaitkan dengan ayat kedua.

Baca Selengkapnya »

MEMPROSPEK MASA DEPAN

Posted By on March 20, 2015

………………………………

Oleh karena itulah, jamaah Jum’at yang berbahagia.

Sedikitnya ada empat langkah dalam memprospek diri menuju masa yang jauh di depan tersebut. Pertama, mengutamakan mencari ilmu melebihi mencari harta, mencari jabatan, mengejar popularitas, maupun perkara duniawi lainnya.Dibarengi dengan semangat yang tinggi yang diniatkan ibadah. Menjauhi niat-tekat yg dilakukan oleh kebanyakan pembelajar pada umumnya, yang niatan tekadnya mencari selembar kertas berharga, prestise, atau bahkan senjata kerja. Menjunjung tinggi Dawuh Junjungan Nabi Saw:
………………………………

Baca selanjutnya: Memprospek Masa Depan

FENOMENA JAMAAH SUBUH

Posted By on January 24, 2015

Telah dipahami dan dirasakan sendiri bahwa tertib melaksanakan sholat Subuh dengan berjamaah adalah perkara yang berat. Walaupun sholatnya paling sedikit jumlah rekaatnya, “hanya” dua rekaat saja. Tapi “mungkin jadi”, bisa lebih banyak dan lebih berat dari dua puluh tujuh rekaat. Pertanyaannya, mengapa jamaah Subuh itu justru menjadi berat? Alasan klasik dan sederhananya adalah :
1. Karena ketiduran (keblandang/kebablasan).
2. Karena terbuai/terlena/ternikmat oleh mimpi yg indah.

Namun demikian, pengalaman-pengalaman lain yang tidak kalah serunya, diantaranya:
– Karena kedinginan, otomatis menguatkan cakupan selimut.
– Karena kasur dan selimutnya gak mau ditinggal.
Baca Selengkapnya »

MENJIWAKAN SEMANGAT MAULUDAN

Posted By on January 9, 2015

……………………………………

Jamaah Jumat yang berbahagia

Mencermati dan mentafakuri secara mendalam peristiwa muludan, dimana seluruh umat Islam sejagad memperingatinya secara meriah, hingga yang nampak eforia semata, akan menjadi kering kerontang dan miskin hikmah bila tidak mampu menjelajah atau menjangkau fenomena dibalik dilahirkannya Sang Nabi. Di antara pesan hikmah yang perlu dipahami, diselami, yang selanjutnya dihayati untuk diamalkan, diantaranya:

Pertama, dilahir atau diutusnya Sang Rasul adalah dalam rangka keselamatan umat, yaa keselamatan kita-kita semua. “Laqod jaakum rasuulun min anfusikum ‘azizun ‘alaihi maa ‘anittum harishun ‘alaikum bilmukminiina raufurrahiim”Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (QS. At-Taubat : 128).

Ayat ini bila kita selami, dapat diurai bahwa diturunkan atau didatangkan rasul itu dari kaummu sendiri. Yaa kaum kita sendiri, umat sak dunia sekarang ini. Bukan kaum/umat jazirah arab, bangsa Israel, atau bangsa manapun. Kaum kita saat ini, tahun 2015 ini. Kalau kaummu itu dimaknai ketika tahun 600-an M, yaa kaumnya Nabi SAW. Kalau kaummu itu dimaknai awal tahun Masehi, berarti  kaumnya Nabi Isa As. Jadi, kaummu sendiri itu adalah kaum pada masing-masing zaman atau masing-masing waktu. Yang ditegasi Allah Swt : sungguh telah datang kepadamu seorang rasul.

…………………………………………………….

Baca selanjutnya : Menjiwakan Semangat Mauludan