Posted By Roni Djamaloeddin on September 6, 2019
Yang satu agama, beda mahdzab yaa tukaran.
Yang satu agama, beda organisasi yaa tukaran.
Yang satu agama, beda aliran kebatinannya, beda torikohnya yaa tukaran.
Terlebih yang beda agamanya, lebih serem tukarannya. Padahal semua agama sama-sama Kagungane Pengeran. Diturunkan melalui Khalifah/Rasul-Nya.
Rasanya sampai habis energi pikir merenungku :
SESUNGGUHNYA AGAMA ITU UNTUK APA?
Baca Selengkapnya »
Kategori: Artikel |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on September 6, 2019
Perpecahan tidak hanya terjadi pada kaum muslim. Semua umat manusia tanpa melihat batas agama, mengalaminya. Bahkan dalam keluarga, sebagai unit terkecil pun mengalami perpecahan.
Mengapa mesti terjadi?
Salah satu penyebabnya (dari sekian juta alasan), adalah sebagaimana ayat-Nya :
“Siapa yang tidak bersama AKU, ia melawan AKU dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama AKU, ia menceraiberaikan/terceraiberai.” (Lukas 11:14-23).
Baca Selengkapnya »
Kategori: Artikel |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on September 5, 2019
Jargon “Membela Tauhid”, telah terjadi disorientasi antara teori, praktis, maupun substansinya. Hal demikian dg jelas dapat dicermati dari maraknya berbagai demo, keras runyamnya perselisihan, hingga saling tantang dengan “pedang-kata” tajamnya.
Mestinya, sebagaimana yg dicontohkan suri tauladan umat sak jagad (Khalifah/Wakil/Utusan-Nya), tauhid itu tetap istikomah membumi di dalam dada, ketika jiwa raga dihantam berbagai suram terjalnya kehidupan, badai, tsunami, fitnah, hinaan, provokasi, dan semacamnya.
Baca Selengkapnya »
Kategori: Artikel |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on November 20, 2017
Sadermo itu tidak butuh dihargai, tidak butuh didengar, tidak butuh diapresiasi atas ide tutur kata nasehat fatwa apapun yg telah disampaikan.
Tidak butuh dihormati dipuji disanjung-sanjung apalagi dikeramatkan. Tidak butuh ganjaran, baik yang bersifat materi ataupun surgawi.
Sadermo itu tidak kaget tidak kecewa tidak patah semangat ketika ide nasehat tutur kata fatwanya ditolak, diacuhkan, atau bahkan dicibir.
Sadermo itu bukan urusan otak akal logika. Bukan urusan kecerdasan otak, kecerdasan tutur kata, atau pinter ngomongnya. Tapi ia urusan hati.
Baca Selengkapnya »
Kategori: GaDo-2 |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on November 20, 2017
Kadang saya merasa miris, memahami pemahaman mereka bahwa yg disebut saudara (dulur) adalah mereka yang sekandung saja. Diluar saudara sekandungnya adalah benar-benar orang lain. Akibatnya kemudian saling cuek, acuh, bahkan tutup mata tutup rasa pada mereka yang bukan tunggal kandungnya.
Kadang saya geli sendiri, mengikuti pemahaman mereka bahwa yang dikatakan saudara adalah mereka yang semahdzab atau sealiran atau sepadepokan saja. Kemudian dengan gampangnya mencibir, mencemooh, dan menyalahkan orang lain diluar mahdzab-alirannya.
Kadang saya merasa prihatin dan ngelus dada sendiri, menyelami pemahaman mereka bahwa yang dikatakan saudara adalah mereka yang seagama saja. Diluar penganut agamanya adalah orang lain yang salah besar bin sesat yang jauh. Sehingga dengan mudahnya memvonis manusia lain diluar agamanya adalah tersesat, dosa besar, bahkan kafir.
Baca Selengkapnya »
Kategori: Artikel |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on October 24, 2017
Dari 400 juta kontestan yang memperebutkan 1 bidadari, ternyata hanya 1 yg selamat bisa menyuntingnya. Dia itu adalah “kita” sekarang ini. Yaa…kita, yang dulunya sangat hebat luar biasa. Mampu menyisihkan rival sejumlah 399.999.999 saudara seperjuangan, yang akhirnya mereka tewas sia-sia. Persaingan yang sangat luar biasa dalam sebuah perjalanan menuju alam kandungan.
Adakah mungkin ini gambaran kita-kita yang nantinya bisa pulang dengan selamat “abadan abada” kembali di sisi-NYA ??
Kadang terbersit penyesalan, mengapa dulu–ketika di alam arwah–saya begitu kemlinti bin kemleletnya hingga berani-beraninya sanggup menerima amanah-Nya. Padahal amanah tersebut awalnya tidak ditawarkan kepada manusia, tapi ditawarkan langit bumi gunung (makhluk-Nya yang besar perkasa). Dan nyatanya mereka semua menolak mboten sanggup (tidak kuwagang) menerima.
Sementara kita manusia yang cilik methakil kemlelet kemlinthi ini ujug-ujug menyatakan diri di hadapan Tuhan : kulo sanggup Gusti menerima amanah Panjenengan.
Baca Selengkapnya »
Kategori: GaDo-2 |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on September 19, 2017
…….
Jamaah Jumat yang berbahagia
Kemudian maksud warna putih adalah putih berserinya hakekat wajah manusianya. Yakni fitrah manusianya yang asalnya dari Fitrah Allah piyambak.
Fitrah Allah-lah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah-Nya itu. Tidak ada perubahan atas ciptaan Allah perihal fitrah itu (QS. Ar Ruum[30]:30).
Fitrah manusia yang asalnya putih berseri, setelah diterjunkan di medan uji yaitu alam dunia seisinya, dengan dibungkus blegernya nafsu, campur aduk dengan kerasnya berbagai coba dan hawa-hawa dunyo lainnya, yg mestinya menjadi alat/tunggangan, kemudian berubah menjadi hitam, keras, dan membatu. Buktinya, tidak kenal lagi dengan fitrah manusianya sendiri sebagaimana asal muasalnya. Kehidupannya kemudian didominasi dan bahkan dikuasai dijajah oleh nafsu dengan berbagai balatentaranya.
Oleh karena itu, pengenalan akan fitrah manusianya sendiri ini yang terlebih dahulu harus dilakukan. Pengenalannya pun dilakukan dengan benar sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Yaitu melalui kepanjangan tangan-Nya atau duta khusus-Nya atau kabel-Nya yang menjulur langsung dari langit. Disebut Khalifah, Rasul, al-Hadi, Imam Zaman, Imam Mahdi,…dst.
……..
download disini : Menggapai Kemerdekakan Sejati
Kategori: Khutbah Jum'at |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on September 19, 2017
Akal nalar sehat mengatakan : “tidak mungkin seorang pendoa pinaringan rezeki tanpa dibarengi usaha dan kerja keras. Walaupun berdoanya memohon rezeki yang banyak dilakukan selama 24 jam setiap hari. Tapi nyatanya hanya duduk-duduk nyantai tiduran di rumah”.
Demikian halnya ketika berdoa memohon ditunjukkan jalan yang lurus. Yaitu jalan yang DIA ridhoi. Namun akal dan pikirannya tidak mau terbuka. Tidak mau membuka diri mencicipi atau melahap masukan petuah sesamanya.
Memohon ditunjukkan jalan-Nya tapi (tanpa disadari) merasa cukup merasa puas atas pemahaman keyakinan keagamaan yang dimiliki.
Bilamana demikian, kiranya nyaris hil mustahal Tuhan akan menurunkan hidayah petunjuk-NYA.
Lha…. terus…??
Bagaimana seharusnya..??
_____edisi sparing nalar rasional Minggu (130817).
Baca Selengkapnya »
Kategori: GaDo-2 |
No Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on April 14, 2017
………..
Jamaah Jumat yang berbahagia.
Ayat di atas bila dicermati dan diperinci, setidaknya ada 6 hal pada peristiwa Isra’ Mi’raj. Yaitu : yang menjalankan, yang dijalankan, waktu perjalanan, wilayah perjalanan, sistem yang digunakan, dan tujuan perjalanan.
Hal pertama adalah yang menjalankan. Sudah pasti yang menjalankan adalah Tuhan Sendiri, atas Kehendak-Nya semata. Dengan Maha Suci-Nya dan dengan Maha Belas Kasih-Nya “berkenan” memberikan contoh nyata (keteladanan) kepada umat manusia bagaimana seharusnya mensucikan diri serta memproses diri “berjalan” pulang ilaihi raji’una. Sebab hanya DiriNya-lah yang berhak serta berwenang sepenuhnya “memproses”hamba dari kecil menjadi besar, dari tidak bisa apa-apa menjadi bisa sesuatu, dari tidak bisa berpikir menjadi bisa berpikir, serta dari “..gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang…” (QS al Maidah: 16). Termasuk didalamnya dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha.
………….download Membumikan Makna Isra’ Mi’raj
Kategori: Khutbah Jum'at |
4 Comments »
Posted By Roni Djamaloeddin on March 31, 2017
Bertasawuf sama dengan bernafas. Apalah arti kehidupan bila tanpa bernafas. (ronijamal.com)
Seperti sebuah lilin yang tidak terbakar tanpa api, manusia tidak dapat hidup tanpa kehidupan spiritual. (Buddha)
Kategori: Mutiara Bijak |
No Comments »