MEROKOK FISSILMI KAAFFAH

Posted By on December 16, 2021

Mengikuti pro kontra hukum merokok, tidak akan pernah habis. Sekalipun nafas itu telah berhenti, perdebatannya tidak akan pernah selesai. Dilanjutkan anak-anak zamannya. Karenanya, biarlah ia menjadi bagian dari kembange zaman. Menyelami mempraktikkan eskplorasi makna lakum dinukum. (https://ronijamal.com/lakum-dinukum/)

Yang terpenting adalah belajar bijak menyikapi. Tidak menyalahkan yang kontra, juga tidak mendewakan yang pro. Pun sebaliknya, tidak tangasub yang kontra, juga tidak antipati yang pro merokok. Biasa saja, wajar saja.

Baca Selengkapnya »

SPARING NALAR : Dimana Kata Ikhlasnya?

Posted By on December 4, 2021

Tulisan sebelumnya, “Rasionalisasi Ikhlas” telah membahas apa itu ikhlas dari sisi rasionalnya. Bukan sekedar tangan kanan berbuat baik, tangan kiri tidak tahu. Bukan sekedar buang kotoran yang tidak mengharap balik kembali. Tapi lebih jeruu dan mendasar.
(https://ronijamal.com/rasionalisasi-ikhlas/)

Juga tulisan “Belajar Ikhlas”, telah membahas secara detail, bagaimana belajar ikhlas dari pengalaman berguru. Yaitu ketika mampu mewujudnyatakan (makna jeruu dari Qul : katakan) HUWA itu Yang Ahadiyat. Menyatakan HUWA Yang Maha Wujud. HUWA Yang Maha Ada. Juga Yang Maha Bisa, Yang Maha Punya, Yang Maha menggerakkan, dan Maha Segala-galanya. Selanjutnya bergantung sepenuhnya pada HUWA. Tidak menggantikan sandaran lain selain-NYA. Menjadikan HUWA sebagai tempat bergantung, tempat meminta, dan tempat mengadu.

Baca Selengkapnya »

MA’RIFAT ITU…

Posted By on November 27, 2021

Ma’rifat itu, seperti ketika Sunan Kalijogo dibaiat Guru Beliau, langsung menyatakan mati sementara, fan-dzat, mlebu alam kasampurnan. Beberapa saat kemudian dihidupkan normal lagi sebagai layaknya manusia.

Ma’rifat itu, seperti ketika gurunya gurunya gurunya….Guruku (dalam rantai silsilah) melakukan takbirotul ikrom, langsung leeess mlebu akherat. Mati sementara selama sholat itu berlangsung. Begitu imam sholat mengucap salam (tanda sholat selesai), Beliau terbangun dari akherat. Karenanya sholat disebut mi’rojul mu’minin.

Baca Selengkapnya »

BEBASKAN KEJAHATAN DIRI

Posted By on November 26, 2021

Diri ini jahat?
Begitulah ketika menyelami kedalaman makna innahu kaana dzaluman jahuula (QS.33:72). Sesungguhnya manusia itu kejam (jahat) lagi bodoh.

Adalah vonis yang diberikan Tuhan kepada makhuk yang bernama manusia ketika masih di alam fitrah (alam dzar, alam arwah). Masih berupa fitrah, belum berwujud manusia. Belum punya akal nalar. Belum bisa berpikir, menalar, merasional. Namun sudah tervonis kejam (jahat) lagi bodoh.

Baca Selengkapnya »

MENGAPA MERASA MEMILIKI?

Posted By on November 9, 2021

Dari berbagai literasi, alasan sederhana mengapa merasa memiliki adalah karena manusiawi. Alasan lainnya : kedunungan (punya) nafsu, perbuatan salah yang tidak disadari manusianya, hidup yang penuh halu, sumber penyakit dan pikiran, …dst-dsb.

Sedang umpan rumit yang bisa kami sparingkan (pengalaman olah nalar dan pitutur Guru), mengapa merasa memiliki adalah karena kinerja alami dari roh yang dalam keadaan sadar. Roh yang adalah Daya Kuat Daya Bisa Daya Punya Daya Milik dari/milikTuhan yang dipinjamkan pada fitrah manusia ketika masih berumur 120 hari dalam kandungan.

Baca Selengkapnya »

MEMULUNG KANCRITAN BIJAK MENIKAH

Posted By on October 28, 2021

Secara umum, menikah ideal itu dilandasi beberapa fondasi dasar, diantaranya : seia sekata, materi cukup, umur cukup, mental spiritual siap, dan sepakat kedua walinya.

Walaupun terkadang ada beberapa kasus khusus yang menafikan fondasi dasarnya. Semisal : aturan adat, kecelakaan pergaulan, terseret arus budaya, terjerat tsunami media, keterpaksaan, dan lain sebagainya.

Baca Selengkapnya »

MENGAPA ADA CERAI?

Posted By on October 17, 2021

Alasan utama, karena manusianya yang memilih cerai. Andai mampu bertahan, walaupun dihantam ribuan alasan yang mengarah perceraian, akan sanggup bertahan. Bahkan mengubahnya menjadi pupuk yang menyuburkan pernikahannya.

Alasan klasiknya, karena pesan sponsor yang menghendaki cerai. Sponsornya bisa orang tua, ortu angkat, pihak ketiga keempat kelima dan seterusnya. Bahkan dimungkinkan campur tangan makhluk gaib.

Baca Selengkapnya »

KONTEMPLASI : MENGAPA BAYI LAHIR MENANGIS ?

Posted By on October 10, 2021

Namanya saja kontemplasi, atau perenungan mendalam, atau tafakkur mendalam, maka tidak menjamin hasilnya “pasti” benar dihadapan Tuhan. Namun memungkinkan sedikit terbuka peluang kebenaran yang sejalan akal nalar rasional. Istilah model pembelajarannya : open ended kebenaran.

Bayi yang menangis saat lahir, bisa dianalogikan dengan kisah manusia dewasa. Semisal dalam situasi kondisi yang relatif mapan kecukupan sebagaimana yang kita rasakan sekarang. Berbekal akal pikiran seadanya, tanpa modal alat/barang apapun dibuang di tengah hutan belantara yang sangat gawat (jalmo moro jalmo mati). Maka kita yang gagah perkasa ini, bisa diestimasi akan nangis ngglolo di tengah kehidupan hutan.

Baca Selengkapnya »

MENAKLUKKAN IRI DENGKI

Posted By on September 30, 2021

Iri dengki adalah sifat watak “gawan bayi” (bawaan sejak lahir). Semua manusia memilikinya. Tak ada perkecualian. Ia tumbuh seiring dengan usia dan perkembangan akal nalarnya. Karenanya, lumrah sekali bila usia makin tua, iri dengki itu makin subur dan kuat.

Iri dengki merupakan pasukan tempur hati sanubari. Pasukan tempur lainnya : senang berlebihan, royal, hura-hura, serakah, dendam, membenci orang, tidak tahu kewajiban, sombong, tinggi hati, senang menuruti sahwat, suka marah, dan akhirnya gelap tidak mengetahui Tuhannya.

Baca Selengkapnya »

MENJADI WAYANG

Posted By on September 13, 2021

Sering kita mendengar kalimat manusia hanyalah wayang yang digerakkan sang dalang. Namun prakteknya, kadang sering jumbuh. Jumbuh perannya. Kadang seperti wayang, kadang menjadi dalang.

Kok bisa demikian?

Faktanya memang demikian. Wayang sesungguhnya yang dari kulit itu barang mati. Hanya satu dimensi : dimensi syareat (lahiriah). Sehingga dengan mudah digerakkan oleh dalang. Bahkan oleh siapapun, dengan mudah pula dimainkan.

Baca Selengkapnya »