BELAJAR TANPA GURU?

Posted By on October 8, 2022

Di jaman yang serba gogling sekarang, belajar tanpa guru memang dimungkinkan bisa. Semisal belajar program komputer, belajar mata pelajaran/kuliah, belajar merakit ini itu, dan lain sebagainya yang sifatnya rasional. Tentunya guru yang dimaksud adalah manusia secara fisik.

Namun belajar yang membutuhkan skill khusus, mesti perlu instruktur (guru). Tidak bisa belajar mandiri, sekalipun secara gogling dimungkinkan ada. Semisal belajar menerbangkan F16, belajar menjelajah ruang angkasa, belajar merakit bom atom, …dlsb.

Baca Selengkapnya »

PITUTUR NGGRANTES

Posted By on October 4, 2022

Bagaimana tidak dikatakan pitutur (nasehat) yang nggrantes (menyayat hati meratap sedih pilu), yang meninggal saja seolah-olah memberi nasihat langsung : ELINGO SIRO, SAIKI AKU SESUK KOWE (ingatlah kalian, sekarang saya yang mati, besok kamu).

Nggrantesnya, walau hanya tulisan, seolah mewakili yang terbujur kaku didalamnya memberi nasehat. Sedang biasanya, bila yang menuturi adalah sesamanya, kyai tokoh ulama ortu, hasilnya kurang menusuk relung jiwa. Seolah seperti angin lalu.

Baca Selengkapnya »

BELAJAR ILMU IKHLAS?

Posted By on September 27, 2022

Banyak orang mengatakan aku ikhlas kehilangan ini itu. Aku ikhlas hutangnya tidak dibayar. Aku ikhlas kepergian/kematiannya. Aku ikhlas dimadu, dst-dsb. Apakah ungkapan-ungkapan ikhlas itu benar-benar ikhlas?

Belum tentu. Sebab ikhlas itu tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Ikhlas itu tidak bisa dimisalkan dengan buang hajat, yang bersih tidak nyanthol dalam hati. Ikhlas juga tidak bisa disejajarkan tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu apa-apa.
(https://ronijamal.com/rasionalisasi-ikhlas/)

Baca Selengkapnya »

MERASIONALKAN POLIGAMI

Posted By on September 23, 2022

Dalam teori fisika, bila dua gaya berlainan besar dan arahnya, maka ada gaya resultan yang akan mewakili keduanya. Itu pasti, tidak bisa dihindari dan dimanipulasi. Dan ternyata, teori itu pun sangat layak dalam mencerah merasionalkan poligami.

Sehingga, ketika An Nisa 3 mengamanatkan: “Bila kalian khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim perempuan, maka nikahilah dari perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga atau empat. Lalu bila kalian khawatir tidak adil, maka nikahilah satu orang perempuan saja atau nikahilah budak perempuan yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat pada tidak berbuat aniaya”, sedang faktanya kebanyakan wanita tidak mau dipoligami. Maka idealnya, diambil keputusan resultannya.

Baca Selengkapnya »

BELAJAR MEMECAH MENCERAH PENALARAN

Posted By on September 16, 2022

………….

Jumat yang berbahagia
Wanti-wanti atau larangan keras agar jangan sekali-kali mematikan potensi yang ada dalam jiwa sehingga selamat terselamatkan, tentunya harus dibarengi dengan langkah-langkah nyata sejak sekarang. Bukan sekadar berdoa memohon, tapi tanpa disertai usaha langkah praktis. Sehingga suasana keadaan muslimun, selamatnya lahir batin, selamatnya jiwa raga, terbangun rapi indah dan kokoh sejak dari sekarang. Karena itu menuntut pecah cerahnya nalar rasional dan subur makmurnya tafakkur mendalam.

Baca Selengkapnya »

MASJID AL-HARAM?

Posted By on September 15, 2022

Istilah Masjidil Haram awalnya tersurat dalam Al Isra’ ayat 1. Ayat yang biasa dikenal dengan peristiwa Isro’ Mi’roj. Kemudian istilah itu melekat pada sebuah masjid yang mengelilingi Ka’bah.

Namun pada ayat tersebut tidak dijelaskan apakah bermakna fisik, meta fisik, atau bermakna lain. Atau mungkin sengaja disilent Tuhan agar manusia greget mencari dan bertanya pada ahlinya (Wakil Tuhan). Atau mungkin sebagai pancingan akal nalar, yang akan mengantar otak pecah cerah pada Tuhannya?

Baca Selengkapnya »

MANUSIA ITU ADA ATAU TIDAK?

Posted By on September 8, 2022

Manusia itu ada atau tidak, pemahaman pengalaman kami, tergantung sudut pandangnya. Bila sudut pandangnya dari manusia, maka manusia itu ada. Buktinya, ketika lapar dahaga tidak makan minum, maka tetap lapar dahaga. Bahkan bisa sakit, hingga berujung kematian.

Demikian pula ketika dipukul merasakan sakit, menandakan bila dirinya ada. Dipaido dihina dilecehkan merasa tersinggung dan marah, menandakan bila dirinya merasa ada. Serta masih buanyak fakta lain yang menyatakan bahwa manusia itu ada.

Baca Selengkapnya »

NAFSU vs SETAN

Posted By on September 3, 2022

Di berbagai literasi, nafsu adalah keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat untuk berbuat kurang baik.
Sedang setan adalah makhluk (dalam agama Samawi) yang menggoda manusia untuk berbuat jahat. Istilah “setan” awalnya digunakan sebagai julukan untuk berbagai entitas yang menantang kepercayaan iman manusia (dalam Alkitab Ibrani).

Sementara dalam pandangan kyai ulama tokoh rohaniwan, sangat mungkin berbeda pendapat. Bisa dijadikan kazanah pengetahuan pemahaman baru. Dan tentunya, perbedaan definisi tersebut bisa diserap saripatinya. Kemudian disimpulkan oleh nalar rasional bersama nurani secara harmonis.

Baca Selengkapnya »

KENAPA ADA PERTANGGUNGJAWABAN?

Posted By on August 29, 2022

Analogi sederhana kenapa ada pertanggungjawaban, adalah seperti kita memberi perintah/tugas pada anak kita atau bawahan kita. Maka secara otomatis hati kecil kita menuntut laporan sederhana, atau tanggung jawabnya. Disamping untuk melihat kinerja yang ditugasi, juga melihat hasil garapannya, yang sejatinya kitalah pemilik atau pelaksananya.

Secara rasional, kenapa ada pertanggungjawaban, karena telah menyatakan sanggup menerima amanah. Andai tidak sanggup menerima amanah, tentu tidak ada pertanggungjawaban. Sebagaimana nasib langit bumi gunung, yang karena tidak sanggup menerima amanah, sehingga tidak ada pertanggungjawaban.

Baca Selengkapnya »

KEMANA ROH KETIKA MATI?

Posted By on August 22, 2022

Pengalaman meguru kami, perihal ilmu mati (ilmu dzikir) yang diagem (dipakai) para nabi para wali, kemana roh manusia ketika mati, adalah tergantung pada matinya. Bila matinya slamet, bisa mlebu akherat, bisa pulang pada Tuhan, bisa ilaihi roji’una, bisa manunggal menyatu dengan Tuhan, maka saat mati rohnya sirna. Sirna di alamnya Tuhan. Roh yang asalnya dari Tuhan, sirna kembali di alam Tuhan.

Tapi bila matinya tidak slamet, tidak bisa ilaihi rojiun, tidak bisa masuk akherat, tidak bisa mulih ke alam kasampurnan, maka rohnya cepot (keluar) dari jasad. Kemudian gentayangan di alam penasaran (alam kesesatan, alam gaib yang bukan alamnya Tuhan). Jasadnya yang mati, tapi fitrah manusianya tidak ikut mati. Kemudian masuk alamnya jin setan demit tuyul gendruwo pocong kuntilanak medon … maupun bangsa memedi lainnya.

Baca Selengkapnya »